Senin, 25 Mei 2026

Opini

OPINI: Lima Dampak Toxic Communication Dalam Interaksi Sosial

Proses berpikir sebelum berbicara dalam hubungan atau interaksi sosial memungkinkan seseorang untuk mempertimbangkan dampak dari kata-katanya

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Ilham Mulyawan
zoom-inlihat foto OPINI: Lima Dampak Toxic Communication Dalam Interaksi Sosial
TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR
Ilustrasi - Pengunjung menikmati suasana malam di cafe Arma, Jl Andi Djemma, Makassar, Kamis (22/9/2022) malam. Dengan banyaknya warga yang kembali nongkrong di cafe bertanda Perekonomian yang sudah kembali normal sehingga bisa dirasakan manfaatnya oleh pemilik cafe. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa akhir dari pandemi Covid-19 kemungkinan semakin dekat. Sejumlah warga setuju dan menilai kondisi saat ini memang sudah berangsur normal. 

Lima Dampak Toxic Communication Dalam Interaksi Sosial
M. Fathan Ali Rahman Nst.
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Akuntansi, Universitas Jambi)

TRIBUN-SULBAR.COM - Masih ingatkah ungkapan "mulutmu adalah harimaumu yang akan menerkam kepalamu?" Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa kata-kata yang diucapkan seseorang tanpa pertimbangan yang matang dapat berbalik menjadi masalah atau musibah yang merugikan diri sendiri. 

Bahkan lebih berbahaya dari yang dapat kita duga. Oleh karena itu, penting untuk selalu berpikir sebelum berbicara, karena kata-kata yang tidak terkontrol dapat membawa akibat yang merugikan bagi diri sendiri. Namun, tidak semua pelaku merasa menyesali ucapannya dan justru merasa dirinya selalu benar serta mencari pembenaran dirinya.

Proses berpikir sebelum berbicara dalam hubungan atau interaksi sosial memungkinkan seseorang untuk mempertimbangkan dampak dari kata-katanya, menghindari kesalahpahaman, dan menjaga hubungan beracun.  Hubungan beracun atau toxic relationship merujuk pada hubungan di mana setidaknya salah satu pihak, atau bahkan keduanya, merasa kurang dicintai, tidak mendapatkan dukungan, seringkali direndahkan, disalahpahami, atau bahkan mengalami serangan emosional dan atau fisik (Agustini, W. A., & Musslifah, A. R. (2024).

Tanda-tanda dari toxic relationship meliputi perasaan tidak aman dalam menjalani hubungan, pemberian komentar negatif, kecemburuan yang berlebihan, kritik yang tajam, perilaku merendahkan, sikap egois, dan ketidakjujuran, yang semuanya dapat mengakibatkan seseorang merasa lebih buruk (Astuti, 2022),. Seseorang yang terjebak dalam hubungan toxic umumnya karena tidak bisa berpikir logis terhadap perilaku buruk yang dilakukan pasangan atau mitra bicara. Salah satu faktor yang memengaruhi toxic relationship adalah self esteem, yaitu kepuasan terhadap dirinya yang memengaruhi kepercayaannya dalam segala hal, baik dalam hubungan romantis maupun interaksi yang lain  dalam kehidupan sehari-hari.

Berkaitan dengan hal tersebut, penulis melakukan eksplorasi secara mendalam mengenai proses, kejadian, dan aktivitas terhadap kasus toxic relationship satu orang atau lebih mengunakan metode pendekatan studi kasus dengan memusatkan pada sejumlah remaja kampus yang mengalami pelecehan atau bullying dengan memanfaatkan data dari liputan media sosial dan beberapa literature mengenai kasus toxic relationship. 

Dengan strategi pemilihan dan pengolahan informasi yang digunakan dalam pencarian perpustakaan ini yaitu dengan mencari informasi tentang variabel dalam bentuk buku, media masa, artikel, catatan ,jurnal, dan media jejaring sosial, sehingga tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menguraikan tentang dampak dari toxic relationship dalam interaksi sosial.

Dengan demikian, tulisan ini berupaya menggali secara gamblang tentang toxic relationship dalam interaksi sosial yang dibatasi khusus dalam kalangan mahasiswa pada tingkatan awal yang masih tergolong remaja dengan fenomena kehidupan yang relating berubah-ubah . Dalam tulisan ini, secara khusus  menarasikan lima dampak toxic relationship dalam interaksi sosial mahasiswa di kampus. Kelima dampak tersebut adalah, ratika (rasa tidak aman), ceterkom (cemas terhadap komentar), cember (kecemburuan berlebihan), konbat (konflik batin), dan depsijan (depresi dan jantungan).  

Kelima dampak tersebut ditemukan dari pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari serta diperkuat dari berbagai literatur atau kajian ilmiah yang relevan. Toxic relationship adalah hubungan yang tidak sehat untuk diri sendiri dan orang lain. Orang yang pernah mengalami hubungan yang merugikan akan merasakan konflik internal. Konflik batin ini dapat menyebabkan kemarahan, depresi, atau kecemasan. Hubungan yang beracun membuat sulit untuk menjalani hidup yang produktif dan sehat (https://pijarpsikologi.org/). Berikut lima dampak yang ditimbulkan dari toxic relationship. Kelima dampak ini saling berkaitan satu dengan yang lainnya dalam hal sebab dan akibat yang ditimbulkan.

Pertama, ratika (rasa tidak aman). Toxic relationship kerap terjadi pada remaja,  karena remaja berada pada masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa dimana mereka belum mampu untuk memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Dari segi psikis sejumlah remaja melaporkan sering sekali direndahkan dengan kekerasan verbal seperti kata-kata kotor dan caci maki serta memanggil dengan gelaran yang tidak disukai mengakibatkan rasa tidak aman dalam interaksi. Kata-kata toxic tersebut antara lain, si Pesek, Pudek (putih pendek), anjai, telegu, si Norak, si Gemoy, lolo, piakak, parno, dan masih banyak lagi sesuai kodrat alam dan kodrat zaman yang terus-menerus berubah dan berkembang. 

Dampaknya dalam jangka panjang, dapat merusak hubungan interpersonal, mengurangi kualitas komunikasi, dan memperburuk kesejahteraan mental. Selain itu, rasa tidak aman ini bisa memperburuk stres dan meningkatkan risiko masalah psikologis, seperti gangguan kecemasan atau bahkan perilaku merusak diri serta ketidakmampuan untuk merasa dihormati dapat mendorong individu untuk menjadi lebih agresif atau defensif, yang berisiko menimbulkan tindakan kekerasan fisik, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain (Maharani, K. D., & Kalifa, A. D. 2024).  Sedangkan dampak dalam jangka pendek, si korban toxic selalu terancam dalam bertindak, terancam akan kehadiran siapa pun dan dimana pun ia berada. Bahkan, merasa tidak aman di dalam rumahnya sendiri.

Kedua. ceterkom (cemas terhadap komentar). Bentuk kekerasan psikologis yang dialami yaitu verbal seperti alat kelamin dan binatang, penghinaan secara fisik, penghinaan tentang keluarga, penghinaan secara ekonomi, pengekangan atau tindakan penguasaan yang membatasi dengan lingkungan sosial. Bentuk kekerasan ekonomi yang dialami yaitu meminjam uang namun tidak dikembalikan, pasangan tidak pernah mengeluarkan uang atau biasa disebut mokondo dan terlalu sering meminta dengan memelas. Korban toxic  dalam kehidupan kampus yang ditemukan antara lain, beberapa mahasiswa sering dipaksa dan terpaksa untuk selalu melayani si pelaku toxic membayar uang jajanan di kantin kampus hampir setiap hari tanpa berani melawan.

Fenomena tersebut berdampak pada kecemasan korban dalam berkomentar baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga korban memendam apa yang ia rasakan dan membebani dirinya sendiri serta tidak mampu atau terhalang mengungkapkan perasaannya. Bahkan, ketika korban disakiti, dianiaya, ia enggan untuk berkomentar dan selalu cemas akan setiap komentar orang lain. Akhinya, hidupnya sepi dalam keramaian, hidup dalam imajinasinya sendiri.

Ketiga. cember (kecemburuan berlebihan). Bisa saja, kita tanpa menyadari telah menjadi korban toxic selama ini. Kecemburuan berlebihan atau posessif  baik terhadap pasangan, terhadap dosen, terhadap teman dan terhadap anggota keluarga adalah akibat pengalaman ‘hubungan beracun’ yang dialami secara langsung. 

Faktor faktor penyebab terjadinya toxic relationship dibagi menjadi dua faktor yaitu: Faktor internal yang berasal dari dalam diri seseorang yaitu keadaan emosi yang tidak stabil, cara berpikir yang belum matang, korban ketergantungan terhadap pelaku dan adanya pendominasian dalam hubungan. Faktor eksternal yang berasal dari luar sehingga membuat individu itu bertindak yaitu pengaruh lingkungan pertemanan pelaku, rasa cemburu yang berlebihan terhadap lingkungan sosial korban, pengalaman perselingkuhan pelaku dalam hubungan asmara dan adanya rasa tidak mematuhi larangan pasangan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved