Opini
Penyuluh Agama: Misi Damai dan Harmonis di Pusaran Pilkada
Inilah kondisi pesta demokrasi yang seharusnya. Disamping ia mengajak kita untuk berfikir juga memantik tawa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Muh-Yusrang-SH-Ketua-IPARI-Mamuju-Tengah.jpg)
Oleh: Muh Yusrang, S.H
(Ketua IPARI Mamuju Tengah dan Nominator Penyuluh Agama Islam Award Nasional 2023 & 2024)
Tahun ini adalah tahunnya politik. Setelah diawal tahun memberikan hak demokrasi kita pada Pemilihan Umum.
Pemilihan Calon Presiden dan Wakil Presiden, pemilihan legislatif dari pusat hingga daerah. Juga pemilihan Dewan Perwakilan Daerah.
Di pertengahan menuju akhir tahun ini kita kembali dihadapkan pada kondisi yang sama yaitu Pemilihan Kepala Daerah Kab/Kota dan Provinsi – Pemilihan Calon Bupati dan Wakil Bupati serta Calon Gubernur dan Wakil Gubernur.
Belum dingin mesin-mesin partai politik pada pagelaran Pemilu kemarin. Kembali mesinnya bergemuruh menyambut hadirnya pemilihan kepala daerah serentak.
Kepulan asap panas terasa hingga pelosok negeri. Saut saut suara para pendukung lalu lalang begitu nyaring dan terkadang memekakan telinga.
Deklarasi pun bersambung tali. Orasi pun tak terelakkan. Berbagai narasi yang memanjakan telinga dan hati pun dikumandangkan. Demi menarik minat para pemilik hak agar menitipkan suaranya lima tahun kedepan.
Orasi-orasi itu menggetarkan hati. Layaknya orasi Bung Tomo ketika memantik semangat juang para kaum muda arek suroboyo menghadapi penjajah.
Namun kali ini, bukan Orasi melawan penjajah yang digaungkan melainkan melawan kemiskinan, ketimpangan sosial, pengangguran, keterpurukan pendidikan dan kesehatan, serta isu lainnya.
Media sosial dan media massa pun dipenuhi dengan foto-foto para kandidat dengan Akronim dan Slogannya masing-masing yang tidak sedikit memancing decak gakum dan gelak tawa.
Inilah kondisi pesta demokrasi yang seharusnya. Disamping ia mengajak kita untuk berfikir juga memantik tawa.
Penyuluh Agama sebagai Abdi Negara yang dituntut untuk netral dan tidak memihak kepada satu pihak pun memiliki kewajiban untuk menyukseskan pesta demokrasi ini.
Tanggungjawab yang diemban ialah bagaimana menciptakan Pilkada yang Harmonis dan Damai menggunakan Bahasa Agama.
Selain memiliki fungsi sebagai jari manis kementerian agama diwilayah tugasnya masing-masing.
Selain bertugas mengedukasi umat dibidang keagamaan. Penyuluh Agama juga memiliki fungsi lain yaitu bagaimana kemudian memberikan advokasi kepada masyarakat terkait program pembangunan pemerintah – Literasi Politik salah satunya.