OPINI
Menyelami Falsafah Insya Allah
Apa yang menjadi pemikiran tersebut itulah menjadi realitas di masyarakat secara umum. Itulah gambaran cara keberagamaan di sebagian masyarakat kita.
Oleh : Ilham Sopu
TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Menarik tulisan opini Ustadz Burhanuddin Hamal di salah satu media sosial yang digawangi oleh Adi Arwan Alimin seorang kolumnis, penulis produktif, khususnya terkait kebudayaan dan kesusasteraan.
Dalam tulisan Ustadz Burhanuddin mengangkat hal-hal yang sifatnya remeh teme tersebut, salah satu yang diangkat adalah kebiasaan ketika di media sosial baik di FB, WA, dan media-media lainnya ketika mendapati berita duka atau kematian langsung memberikan dan menuliskan Alfatihah, namun kebanyakan kita hanya sekedar menlike dan menuliskan Alfatihah tapi tidak berhenti sejenak secara khusyuk untuk membacakan Alfatihah.
Apa yang menjadi pemikiran tersebut itulah menjadi realitas di masyarakat secara umum. Itulah gambaran cara keberagamaan di sebagian masyarakat kita.
Kita kebanyakan dalam menjalankan ajaran agama, masih terbelenggu dengan simbol-simbol. Agama memang banyak diwarnai dengan simbol-simbol dalam beragama, dan simbol itu penting, tapi kita tidak boleh berhenti pada simbol-simbol dalam beragama.
Dalam beragama kita biasa juga menganggap remeh atau tidak terlalu memperhatikan karena terlalu familier dengan kita ajaran-ajaran agama tersebut.
Dalam hal-hal sepele seperti membaca berita kematian di media sosial, langsung menuliskan alfatihah sebagai rasa ikut berbelasungkawa, namun berhenti disitu, tidak dilanjutkan dengan pembacaan alfatihah secara khusus.
Keberagamaan lebih banyak bersifat pragmatisme, simbol-simbol dalam beragama atau memaknai agama lebih menonjol, tanpa mencoba untuk memberikan perenungan terhadap apa yang ada dibalik simbol tersebut, atau dalam bahasa yang lain, kita beragama masih dalam tataran formalisme tanpa mampu melihat substansi dibalik formalisme tersebut.
Bahasa-bahasa agama yang sudah sangat familier dalam percakapan sehari, kadang kehilangan substansi, dan dianggap sebagai hal biasa-biasa saja, padahal sangat punya makna yang sangat dalam.
Dalam keseharian kita, sebagaimana yang disampaikan diatas Ustadz Burhanuddin tentang bacaan Alfatihah yang tidak sempat dibaca ketika membaca atau melewati berita duka di FB atau di group WA.
Contoh yang lain yang hampir sama, ketika kita bertemu dengan teman, biasanya kita akan bertemu kembali, dan secara spontan kita katakan.
Kita tidak menyadari bahwa perkataan itu adalah ajaran yang mendasar atau pokok dan punya makna yang sangat mendasar dalam ajaran agama. Tapi seakan kita beranggapan atau disebagian orang, menganggap hal yang sepele, mendengar ucapan tersebut, adalah ucapan yang sifatnya atau maknanya longgar, atau perjanjian yang tidak punya nilai sama sekali, atau perjanjian yang bisa kita tidak laksanakan.
Dengan kata lain pikiran orang jika mendengar perkataan Insya Allah dari orang lain, seolah-olah ungkapan itu digunakan untuk menyatakan komitmen yang longgar, atau janji-janji yang tidak begitu teguh, atau harapan yang belum tentu akan menjadi kenyataan.
Inilah adalah suatu kekeliruan yang perlu kita renungi kembali guna memperkuat suatu ajaran agama yang sifatnya agak remeh namun punya makna yang sangat dalam.
Kita perlu sering-sering mengevaluasi cara keberagamaan kita yang kadang agak melemah dalam memahami suatu ajaran agama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Ilham-Sopu.jpg)