Kamis, 7 Mei 2026

Opini

Membangun Citra di Tengah Kepercayaan pada Internet Menurun

Efek paling sederhana yang ditimbulkan adalah tak butuh banyak biaya untuk menyiapkan pertemuan dengan kelompok massa dari berbagai wilayah.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Membangun Citra di Tengah Kepercayaan pada Internet Menurun
ISTIMEWA
Shalahuddin, S.Sos., MM. (Relawan TIK Sulawesi Barat) 

Tak terkecuali jika dikerucutkan pada situasi yang ada di Sulawesi Barat.

Kemudian jika diamati lebih detail pada status literasi digital Indonesia tahun 2021, isu politik diakui oleh 69,3 persen responden sebagai isu yang paling banyak mengandung hoaks atau informasi keliru.

Jumlah ini meningkat 2,1 persen dari tahun 2020. Masih dari sumber yang sama, media sosial Facebook menurut responden merupakan tempat paling banyak beredar berita bohong atau hoaks tersebut.

Membangun Citra di Tengah Ketidak Percayaan Publik

Proses konstruksi pesan di media sosial merupakan bagian dari hasil menyusun puzzle citra yang disematkan bersama dengan unsur-unsur lain dan memiliki makna. Penentuan makna disini sifatnya kontekstual (pragmatis).

Pesan yang diharapkan mampu mengasumsikan hubungan struktural berupa komentar tentang dan dukungan bagi apa yang dimunculkan pada beranda media sosial (produk pesan).

Proses ini kata Smith & Wilson merupakan upaya pemberian tekanan (stress assigment) skala fokus dari pelbagai tambahan semantik.

Secara sederhana, hal ini merupakan proses isolasi terhadap sejumlah makna yang diharapkan tercipta menjadi citra dan memiliki pemaknaan yang seragam.

Aktifitas ini pun belakangan kian lumrah dalam upaya meyakinkan publik tentang gerak sosial kita dan diharapkan simultan mendapat respon positif secara reel.

Namun kondisi tersebut sangat riskan jika realitas maya dan nyata tak selaras mengiringi gerak sosial kita. Apalagi jika hal itu terkait dengan aktifitas politik.

Sebab sensitifitasnya bisa menghadirkan ekses negatif apalagi produksi pesannya melampaui konotasi dari pesan yang mesti dihadirkan.

Hal ini akan menjadi sumber dan sumbu munculnya perubahan substansi pesan.

Pada akhirnya, akan menjadi satu diantara yang berkontribusi dalam menggerus kepercayaan publik pada produksi-produksi pesan berikutnya yang disebarluaskan melalui internet.

Jika demikian, penting untuk melihat kembali apakah produksi pesan yang selama ini dibangun mampu menjaga keberlangsungan kepercayaan publik atau tidak.

Sebab tentu sebagai warga yang awam kita senantiasa menanti citra otentik. Bukan citra yang dicederai oleh material konotasi yang berlebihan. (*)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved