Opini
Membangun Citra di Tengah Kepercayaan pada Internet Menurun
Efek paling sederhana yang ditimbulkan adalah tak butuh banyak biaya untuk menyiapkan pertemuan dengan kelompok massa dari berbagai wilayah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Shalahuddin-SSos-MM-Relawan-TIK-Sulawesi-Barat.jpg)
Oleh : Shalahuddin, S.Sos., MM.
(Relawan TIK Sulawesi Barat)
SEJAK kehadiran internet sebagai wahana dan menjadi basis interaksi sosial masyarakat, sejumlah optimisme tentang masa depan sosial baru turut mengiringinya.
Salah satunya karena infrastruktur ini mampu memfasilitasi kebutuhan untuk terkoneksi dan melipat jarak.
Nyaris tak lagi menjadi kekhawatiran jika hendak melakukan transaksi informasi hingga data dalam jumlah tak sedikit. Sekali lagi, karena difasilitasi oleh internet.
Tak hanya itu, seperti yang kita pahami sebelumnya, juga mampu mengakomodasi kepentingan untuk terkoneksi dalam waktu yang sama dengan jumlah pengguna yang banyak.
Efek paling sederhana yang ditimbulkan adalah tak butuh banyak biaya untuk menyiapkan pertemuan dengan kelompok massa dari berbagai wilayah.
Tentu, dengan prasyarat infrastruktur jaringan internet menjangkau penggunanya.
Pada perjalanannya, teknologi ini makin digandrungi untuk menjembatani perjumpaan lintas batas geografis.
Sebab tampaknya tak hanya menjadi wahana mediasi tetapi juga turut merepresentasi peran sosial kita yang nyaris sulit muncul dipermukaan selama ini melalui organisasi konvensional.
Kita dapat melihat belakangan aktifitas sosial kita disedot oleh teknologi yang mengandalkan internet sebagai basisnya.
Mulai dari aktifitas yang terkait dengan ekonomi rumah tangga hingga aktifitas sosial lintas benua.
Kita terfasilitasi dengan baik termasuk untuk menyalurkan argumentasi dan memilih segmentasi pada beragam aktifitas dan komunitas.
Selain itu, geliat politik secara berjenjang dari level nasional hingga lokal terakomodir dengan baik. Pintu desentralisasi gerakan makin terdistribusi dengan baik.
Meski pada ritme yang dijalankan kini mulai menunjukkan gejala yang mendistorsi kepercayaan publik pada sajian-sajian yang “dipasarkan” melalui media baru berbasis digital.
Bukan tanpa alasan, di tengah kecepatan informasi “berlayar” mengarungi platform digital menyapa gawai kita, turut seiring dengan masifnya informasi yang tak berkualitas.
Bahkan, kini kita kebanjiran informasi yang mengabarkan pergerakan atmosfir sosial di tempat berbeda dalam waktu yang bersamaan.
Sementara, proses akurasi informasi nyaris tak terjangkau. Di saat yang sama pula, tak sedikit saudara-saudara yang turut serta tergulung dalam amukan hoax tak bertepi.
Pada sejumlah survey, merilis tren informasi yang tak benar kian beredar bahkan menunjukkan grafik yang terus menanjak.
Belum lagi kondisi tersebut diperburuk dengan munculnya polarisasi atas masifnya informasi palsu.
Tentu kabar ini tak baik bagi perkembangan teknologi dan terlebih pada keberlansungan masa depan sosial kita.
Termasuk merusak tatanan kehidupan kita dalam berdemokrasi.
Sebab, menggerus kepercayaan kita pada teknologi informasi dan komunikasi dalam mewakili argumentasi yang disuarakan di ruang digital.
Gejala ketidakpercayaan itu secara global belakangan kian menukik.
Salah satu lembaga riset yang berpusat di Paris dan turut konsen mengamati Indonesia pada isu prilaku penggunaan teknologi informasi dan komunikasi bekerjasama dengan The New Institute di Hamburg- Jerman, akhir November 2022 lalu membeberkan hal tersebut.
Pada survey itu, mengungkapkan enam dari 10 responden atau 63 persen pengguna internet di 20 negara yang mengaku percaya pada internet.
Jika dibandingkan dengan data tahun 2019 tren untuk percaya pada internet mengalami penurunan hingga 11 persen.
Termasuk jika data itu dirunut untuk Indonesia yang mengalami penurunan menjadi 77 persen di tahun 2022 atau terpaut hingga 8 persen dari total 85 persen pada tahun 2019.
Salah satu problem yang paling menonjol menurut data tersebut adalah sebaran hoax atau informasi palsu.
Kemudian yang kedua adalah penyalahgunaan data pribadi dan berikutnya perlindungan privasi.
Bila kita konsen terhadap penyebab pertama, memang diakui belakangan isu hoax bukan perkara baru untuk di Indonesia.
Tak terkecuali jika dikerucutkan pada situasi yang ada di Sulawesi Barat.
Kemudian jika diamati lebih detail pada status literasi digital Indonesia tahun 2021, isu politik diakui oleh 69,3 persen responden sebagai isu yang paling banyak mengandung hoaks atau informasi keliru.
Jumlah ini meningkat 2,1 persen dari tahun 2020. Masih dari sumber yang sama, media sosial Facebook menurut responden merupakan tempat paling banyak beredar berita bohong atau hoaks tersebut.
Membangun Citra di Tengah Ketidak Percayaan Publik
Proses konstruksi pesan di media sosial merupakan bagian dari hasil menyusun puzzle citra yang disematkan bersama dengan unsur-unsur lain dan memiliki makna. Penentuan makna disini sifatnya kontekstual (pragmatis).
Pesan yang diharapkan mampu mengasumsikan hubungan struktural berupa komentar tentang dan dukungan bagi apa yang dimunculkan pada beranda media sosial (produk pesan).
Proses ini kata Smith & Wilson merupakan upaya pemberian tekanan (stress assigment) skala fokus dari pelbagai tambahan semantik.
Secara sederhana, hal ini merupakan proses isolasi terhadap sejumlah makna yang diharapkan tercipta menjadi citra dan memiliki pemaknaan yang seragam.
Aktifitas ini pun belakangan kian lumrah dalam upaya meyakinkan publik tentang gerak sosial kita dan diharapkan simultan mendapat respon positif secara reel.
Namun kondisi tersebut sangat riskan jika realitas maya dan nyata tak selaras mengiringi gerak sosial kita. Apalagi jika hal itu terkait dengan aktifitas politik.
Sebab sensitifitasnya bisa menghadirkan ekses negatif apalagi produksi pesannya melampaui konotasi dari pesan yang mesti dihadirkan.
Hal ini akan menjadi sumber dan sumbu munculnya perubahan substansi pesan.
Pada akhirnya, akan menjadi satu diantara yang berkontribusi dalam menggerus kepercayaan publik pada produksi-produksi pesan berikutnya yang disebarluaskan melalui internet.
Jika demikian, penting untuk melihat kembali apakah produksi pesan yang selama ini dibangun mampu menjaga keberlangsungan kepercayaan publik atau tidak.
Sebab tentu sebagai warga yang awam kita senantiasa menanti citra otentik. Bukan citra yang dicederai oleh material konotasi yang berlebihan. (*)