Opini
Membangun Citra di Tengah Kepercayaan pada Internet Menurun
Efek paling sederhana yang ditimbulkan adalah tak butuh banyak biaya untuk menyiapkan pertemuan dengan kelompok massa dari berbagai wilayah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Shalahuddin-SSos-MM-Relawan-TIK-Sulawesi-Barat.jpg)
Bahkan, kini kita kebanjiran informasi yang mengabarkan pergerakan atmosfir sosial di tempat berbeda dalam waktu yang bersamaan.
Sementara, proses akurasi informasi nyaris tak terjangkau. Di saat yang sama pula, tak sedikit saudara-saudara yang turut serta tergulung dalam amukan hoax tak bertepi.
Pada sejumlah survey, merilis tren informasi yang tak benar kian beredar bahkan menunjukkan grafik yang terus menanjak.
Belum lagi kondisi tersebut diperburuk dengan munculnya polarisasi atas masifnya informasi palsu.
Tentu kabar ini tak baik bagi perkembangan teknologi dan terlebih pada keberlansungan masa depan sosial kita.
Termasuk merusak tatanan kehidupan kita dalam berdemokrasi.
Sebab, menggerus kepercayaan kita pada teknologi informasi dan komunikasi dalam mewakili argumentasi yang disuarakan di ruang digital.
Gejala ketidakpercayaan itu secara global belakangan kian menukik.
Salah satu lembaga riset yang berpusat di Paris dan turut konsen mengamati Indonesia pada isu prilaku penggunaan teknologi informasi dan komunikasi bekerjasama dengan The New Institute di Hamburg- Jerman, akhir November 2022 lalu membeberkan hal tersebut.
Pada survey itu, mengungkapkan enam dari 10 responden atau 63 persen pengguna internet di 20 negara yang mengaku percaya pada internet.
Jika dibandingkan dengan data tahun 2019 tren untuk percaya pada internet mengalami penurunan hingga 11 persen.
Termasuk jika data itu dirunut untuk Indonesia yang mengalami penurunan menjadi 77 persen di tahun 2022 atau terpaut hingga 8 persen dari total 85 persen pada tahun 2019.
Salah satu problem yang paling menonjol menurut data tersebut adalah sebaran hoax atau informasi palsu.
Kemudian yang kedua adalah penyalahgunaan data pribadi dan berikutnya perlindungan privasi.
Bila kita konsen terhadap penyebab pertama, memang diakui belakangan isu hoax bukan perkara baru untuk di Indonesia.