Ibu Hamil Ditandu
Perjuangan Warga Tandu Ibu Hamil Lintasi Jalan Rusak sejauh 9 Km di Polman hingga Berakhir Duka
Sebelum dibawa ke rumah sakit, pasien sempat mendapatkan penanganan awal dari bidan di posyandu setempat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/ibu-hamil-ditandu-di-Polman-namun-bayinya-meninggal.jpg)
Ringkasan Berita:
- Seorang ibu hamil di Kecamatan Tutar, Polman, ditandu warga sejauh 9 kilometer akibat akses jalan rusak menuju rumah sakit.
- Warga harus melewati hutan dan sungai berbatu untuk membawa pasien menuju RS Pratama Wonomulyo.
- Meski berhasil tiba di rumah sakit dan menjalani operasi, bayi yang dikandung pasien meninggal dunia.
TRIBUN-SULBAR.COM,POLMAN – Kisah pilu kembali terjadi di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Seorang ibu hamil terpaksa ditandu warga sejauh sembilan kilometer akibat rusaknya akses jalan menuju fasilitas kesehatan.
Peristiwa yang terjadi di Kecamatan Tutar pada Selasa (19/5/2026) itu viral di media sosial setelah video proses evakuasi pasien beredar luas.
Dalam video tersebut, sejumlah warga tampak bergotong royong membawa seorang perempuan bernama Masni (27) menggunakan tandu darurat berbahan bambu dan kain sarung.
Baca juga: Kunci Jawaban PAI Kelas 8 Halaman 185: Narasi Profil Pelajar Pancasila
Baca juga: Pelajar 15 Tahun Asal Tobadak Tewas Usai Menabrak Mobil Parkir di Jalan Mahahe Mateng
Mereka berjalan kaki melewati jalan setapak di kawasan hutan hingga menyeberangi sungai berbatu demi membawa pasien menuju akses kendaraan.
Masni diketahui berasal dari Desa Ratte dan dievakuasi menuju Desa Taramanu Tua sebelum akhirnya dibawa menggunakan mobil ke RS Pratama Wonomulyo.
Namun perjuangan panjang itu berakhir duka.
Bayi yang dikandung Masni meninggal dunia setelah pasien menjalani operasi sesar di rumah sakit.
Kepala Desa Ratte, Habri, mengatakan kondisi pasien saat dievakuasi sudah cukup kritis karena ketubannya telah pecah.
“Sempat sampai di rumah sakit, pasien dioperasi, tapi bayinya tidak tertolong,” kata Habri saat dihubungi wartawan.
Sebelum dibawa ke rumah sakit, pasien sempat mendapatkan penanganan awal dari bidan di posyandu setempat.
Menurut Habri, jalur yang dilalui warga merupakan akses pintas dengan waktu tempuh sekitar empat jam berjalan kaki.
Rute tersebut melintasi kawasan hutan dan beberapa anak sungai berbatu.
Sementara akses jalan utama menuju desa memiliki jarak sekitar 20 kilometer dan kondisinya rusak parah, terutama saat musim hujan.
Akibatnya, kendaraan roda dua maupun roda empat sulit melintas.
Habri menyebut Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat telah berjanji melakukan perbaikan akses jalan tersebut pada tahun mendatang.
Selama ini, proses pembangunan jalan alternatif terkendala status kawasan yang masuk area hutan.
“Sudah ada upaya pengurusan pembebasan jalan. Informasinya paling lambat tahun depan mulai dikerjakan,” ujarnya.
| 8 Hari Hilang, Pria di Pasangkayu Ditemukan Tewas Tinggal Tulang Belulang |
|
|---|
| 7 Hari Pencarian Nihil, Penumpang KM Bukit Siguntang Resmi Dinyatakan Hilang |
|
|---|
| Hilang 5 Hari di Kebun, Remaja 18 Tahun di Mamasa Ditemukan Tewas di Sungai |
|
|---|
| Pencarian Bocah Alfatih di Perairan Pulau Saboyan Mamuju Masuki Hari Keenam Masih Nihil |
|
|---|
| Remaja 18 Tahun di Mamasa Hilang di Dalam Hutan, Tim SAR Gabungan Perluas Pencarian |
|
|---|