Literasi Ulama
Ketika Dakwah Berjumpa Kebiasaan
Agama sesungguhnya memahami bahwa manusia dibentuk oleh kebiasaan jauh sebelum ilmu-ilmu sosial modern menjelaskannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/DAKWAH-Nur-Salim-Ismail.jpg)
Majelis bukan hanya tempat memperoleh ilmu. Ia adalah tempat menumbuhkan rasa memiliki, merawat kedekatan, dan membangun ikatan sosial yang sehat.
Agama tidak tumbuh sendirian dalam ruang pikiran. Ia tumbuh bersama pengalaman.
Persoalan menjadi semakin menarik ketika kita melihat kehidupan modern hari ini.
Kita hidup di tengah kelimpahan informasi. Ceramah dapat diakses kapan saja. Kutipan hikmah beredar tanpa henti. Pengetahuan agama berada dalam genggaman.
Namun mengapa kegelisahan tetap tinggi? Mengapa empati terasa menipis? Mengapa masyarakat semakin mudah tersinggung dan cepat menghakimi?
Mungkin karena informasi berkembang lebih cepat daripada pembentukan habitus.
Media sosial, misalnya, diam-diam membentuk kebiasaan baru. Kita terbiasa bereaksi sebelum memahami. Terbiasa berkomentar sebelum merenung. Terbiasa menilai sebelum mendengar.
Lama-kelamaan semua itu membentuk cara pandang tertentu terhadap kehidupan.
Padahal karakter tidak lahir dari informasi yang lewat sesaat. Karakter tumbuh dari sesuatu yang terus-menerus diulang.
Dalam bahasa agama, pengulangan itu tampak pada salat lima waktu, zikir yang terus dilafalkan, doa yang dibaca berulang, dan berbagai amal yang dilakukan secara istiqamah. Semua itu bukan hanya ibadah dalam makna ritual. Ia adalah proses pembentukan diri.
Agama sesungguhnya memahami bahwa manusia dibentuk oleh kebiasaan jauh sebelum ilmu-ilmu sosial modern menjelaskannya.
Karena itu, dakwah pada masa kini mungkin perlu lebih banyak bertanya tentang ruang-ruang kehidupan yang sedang membentuk manusia. Bukan hanya apa yang mereka dengar, tetapi apa yang mereka alami setiap hari. Bukan hanya apa yang mereka pahami, tetapi apa yang mereka biasakan.
Sebab pada akhirnya, kehidupan seseorang tidak selalu digerakkan oleh apa yang ada di kepalanya.
Sering kali ia digerakkan oleh apa yang telah lama berdiam dalam dirinya.
Dan mungkin di situlah makna terdalam dakwah: bukan sekadar mengajarkan kebaikan, melainkan membantu kebaikan menemukan rumahnya dalam kebiasaan manusia.(*)