Literasi Ulama
Ketika Dakwah Berjumpa Kebiasaan
Agama sesungguhnya memahami bahwa manusia dibentuk oleh kebiasaan jauh sebelum ilmu-ilmu sosial modern menjelaskannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/DAKWAH-Nur-Salim-Ismail.jpg)
Oleh: Nur Salim Ismail
Ada satu pertanyaan sederhana yang sering luput dari perhatian para pendakwah: mengapa seseorang tetap melakukan sesuatu yang ia tahu tidak baik?
Kita menjumpai kenyataan itu hampir setiap hari. Ada orang yang memahami pentingnya menjaga lisan, tetapi tetap mudah menyakiti orang lain dengan kata-kata. Ada yang mengerti keutamaan salat berjamaah, tetapi langkahnya terasa berat menuju masjid. Ada pula yang bertahun-tahun menghadiri majelis ilmu, namun relasi sosialnya tetap dipenuhi amarah dan prasangka.
Pada titik tertentu, kita menyadari bahwa manusia ternyata tidak hidup hanya dengan pengetahuan.
Pengetahuan memang penting. Ia menerangi jalan. Namun yang menentukan ke mana seseorang akan melangkah sering kali bukan apa yang diketahuinya, melainkan apa yang telah menjadi kebiasaannya.
Pierre Bourdieu menyebutnya sebagai habitus.
Istilah ini terdengar akademik, tetapi sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Habitus adalah cara berpikir, merasakan, dan bertindak yang terbentuk perlahan melalui pengalaman yang berulang. Ia tumbuh dalam keluarga, lingkungan pergaulan, budaya, dan berbagai ruang sosial yang kita huni sejak lama.
Karena terbentuk melalui pengulangan, habitus sering bekerja tanpa disadari. Ia menjadi bagian dari diri seseorang.
Baca juga: Dakwah Sebagai Pecakapan Jiwa
Seorang anak yang tumbuh di rumah yang penuh penghormatan kepada ilmu akan menganggap membaca sebagai sesuatu yang wajar. Sebaliknya, anak yang hidup dalam lingkungan yang akrab dengan kemarahan mungkin akan menganggap bentakan sebagai cara normal untuk menyelesaikan persoalan.
Manusia ternyata tidak hanya mewarisi nilai. Ia juga mewarisi kebiasaan.
Di sinilah dakwah menemukan tantangannya.
Selama ini kita sering menempatkan dakwah sebagai aktivitas penyampaian pesan. Ukurannya adalah seberapa banyak orang mendengar, menyimak, atau memahami. Padahal memahami belum tentu membiasakan.
Banyak orang mengetahui kebaikan, tetapi sedikit yang berhasil menjadikannya sebagai bagian dari hidup.
Barangkali karena itu Nabi Muhammad saw. tidak hanya membangun tradisi pengajaran, tetapi juga membangun tradisi kehidupan. Beliau menghadirkan teladan, membentuk komunitas, dan menciptakan lingkungan sosial yang memungkinkan nilai-nilai Islam hidup dalam praktik keseharian.
Masjid bukan sekadar tempat mendengar nasihat. Ia adalah ruang pembentukan kebiasaan.