Rabu, 20 Mei 2026

Khazanah Islam

Cerdas dan Tasamuh

Kita sebagai masyarakat Indonesia sudah sangat berpengalaman dalam perbedaan pendapat, serta cerdas dan tasamuh dalam menyikapinya.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Cerdas dan Tasamuh
dok Ilham Sopu
Ilham Sopu, salah satu cendikiawan Muslim asal Kabupaten Polman, Sulawesi Barat, sehari-hari sebagai pengajar di salah satu pondok pesantren di Pambusuang. 

Sebagian anggota kelompok melaksanakan salat Asar sebelum tiba di tempat tujuan, sedangkan yang lain berpegang pada bunyi teks dan bersikeras melaksanakannya di tempat tujuan meskipun waktunya telah berlalu.

Persoalan ini dilaporkan kepada Nabi, dan beliau tidak menyalahkan siapa pun. Keduanya dibenarkan walaupun berbeda.

Dalam khazanah keilmuan Islam, hal ini dikenal dengan tanawwu’ al-‘ibadah (keragaman cara beribadah). Perlu diingat, toleransi seperti ini berada dalam wilayah furu’ (perincian ajaran), misalnya penetapan waktu Idulfitri atau awal puasa. Pihak yang berbeda pun harus memiliki otoritas ilmiah atau berstatus mujtahid dalam istilah hadis.

Lewat tulisan ini, saya mengapresiasi dua organisasi terbesar di Indonesia, yakni Muhammadiyah dan NU, yang telah banyak berjasa dalam pengembangan pemikiran keagamaan serta meletakkan dasar-dasar moderasi beragama di Indonesia.

Keduanya telah mengedukasi sebagian besar masyarakat Indonesia, baik di bidang keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Jasa kedua organisasi besar ini sangat terasa dan menjadi salah satu sumbangan penting bagi kemajuan bangsa dan negara.

Prof. Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, berpesan agar dalam menyikapi perbedaan awal puasa ini kita mengedepankan kecerdasan dan tasamuh.

Kecerdasan yang dimaksud bukan hanya kecerdasan intelektual atau kemampuan berargumentasi, tetapi juga kecerdasan emosional—tidak mengedepankan emosi dalam menyikapi perbedaan—serta kecerdasan spiritual sebagai basis dalam memperkuat dasar keagamaan.

Dengan demikian, dalam menghadapi perbedaan furu’iyyah, kita tidak mudah terkejut atau terpecah.

Beruntunglah Indonesia yang ditopang oleh dua organisasi besar, yaitu NU dan Muhammadiyah.

Semoga keduanya tetap eksis dalam memberikan sumbangsih bagi keberlanjutan dan kemajuan bangsa serta negara ke depan.

(Bumi Pambusuang, 17 Februari 2026)

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved