Khazanah Islam
Cerdas dan Tasamuh
Kita sebagai masyarakat Indonesia sudah sangat berpengalaman dalam perbedaan pendapat, serta cerdas dan tasamuh dalam menyikapinya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Ilham-Sopu-salah-satu-cendikiawan-Muslim-asal-Kabupaten-Polman.jpg)
Oleh: Ilham Sopu
Seandainya Nabi masih hidup, mungkin kita akan langsung bertanya kepada beliau mana yang benar, puasa hari Rabu atau puasa hari Kamis.
Tentu persoalan akan selesai dan tidak ada lagi yang saling menyalahkan. Namun, hari ini perbedaan itu kembali terjadi.
Apakah pada zaman Nabi pernah terjadi perbedaan di kalangan para sahabat? Tentu, sering terjadi perbedaan. Dan Nabi kerap tampil memberikan pemahaman atau penilaian terhadap pendapat para sahabat yang berbeda.
Seperti yang terjadi hari ini, ada yang bertanya, kapan Anda puasa? Rabu atau Kamis? Ikut Muhammadiyah atau NU/Menteri Agama? Masing-masing memiliki pengikut, argumentasi, dan dalil tersendiri.
Baca juga: Marhaban Ya Ramadan
Lalu bagaimana orang yang tidak puasa hari Rabu dalam pandangan orang yang puasa di hari Rabu? Apakah mereka berdosa? Dan bagaimana orang yang berpuasa di hari Rabu, padahal belum masuk Ramadan menurut versi yang berpuasa hari Kamis? Ini tentu menjadi persoalan.
Kita sebagai masyarakat Indonesia sudah sangat berpengalaman dalam perbedaan pendapat, serta cerdas dan tasamuh dalam menyikapinya.
Bertahun-tahun NU dan Muhammadiyah hidup dalam perbedaan pendapat, baik dengan tokoh-tokohnya masing-masing maupun secara keorganisasian.
Hingga kini, dalam penentuan awal Ramadan dan Idulfitri pun masih sering terjadi perbedaan, sekalipun kedua organisasi ini memiliki tokoh sentral yang sangat dikagumi para pengikutnya.
Sederet tokoh kedua organisasi tersebut, seperti Ahmad Rasyid Fachruddin, Azhar Basyir, Ahmad Syafii Maarif, Abdurrahman Wahid, Hasyim Muzadi, Said Aqil Siradj, dan tokoh-tokoh lainnya, merupakan figur dengan pemikiran maju dan moderat.
Berbeda organisasi, tetapi memiliki semangat yang sama sebagai garda terdepan dalam memajukan keislaman, kemanusiaan, dan keindonesiaan.
Perbedaan dalam Ranah Khilafiyah
Kembali pada perbedaan di atas, hal tersebut tidak boleh dipertentangkan karena masih berada dalam ranah khilafiyah.
Dalam pandangan Prof. Quraish Shihab dalam salah satu bukunya, menyangkut dialog ketika masing-masing menyatakan kebenaran, itulah gambaran arti khilafiyah—pandangan yang meyakini bahwa kebenaran dalam perincian ajaran agama hanya satu.
Namun, beliau juga mengajak kita mendengar mereka yang berpendapat bahwa dalam perincian, boleh jadi kebenaran itu beragam selama semuanya menuntut rida Ilahi. Bukankah empat dapat diperoleh dari dua kali dua, tiga tambah satu, atau bentuk lainnya?
Ada riwayat bahwa Rasulullah pernah berpesan kepada sekelompok pasukan, “Janganlah salat Asar seorang di antara kamu kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” Perjalanan begitu panjang dan waktu Asar hampir berlalu.
Sebagian anggota kelompok melaksanakan salat Asar sebelum tiba di tempat tujuan, sedangkan yang lain berpegang pada bunyi teks dan bersikeras melaksanakannya di tempat tujuan meskipun waktunya telah berlalu.
Persoalan ini dilaporkan kepada Nabi, dan beliau tidak menyalahkan siapa pun. Keduanya dibenarkan walaupun berbeda.
Dalam khazanah keilmuan Islam, hal ini dikenal dengan tanawwu’ al-‘ibadah (keragaman cara beribadah). Perlu diingat, toleransi seperti ini berada dalam wilayah furu’ (perincian ajaran), misalnya penetapan waktu Idulfitri atau awal puasa. Pihak yang berbeda pun harus memiliki otoritas ilmiah atau berstatus mujtahid dalam istilah hadis.
Lewat tulisan ini, saya mengapresiasi dua organisasi terbesar di Indonesia, yakni Muhammadiyah dan NU, yang telah banyak berjasa dalam pengembangan pemikiran keagamaan serta meletakkan dasar-dasar moderasi beragama di Indonesia.
Keduanya telah mengedukasi sebagian besar masyarakat Indonesia, baik di bidang keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Jasa kedua organisasi besar ini sangat terasa dan menjadi salah satu sumbangan penting bagi kemajuan bangsa dan negara.
Prof. Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, berpesan agar dalam menyikapi perbedaan awal puasa ini kita mengedepankan kecerdasan dan tasamuh.
Kecerdasan yang dimaksud bukan hanya kecerdasan intelektual atau kemampuan berargumentasi, tetapi juga kecerdasan emosional—tidak mengedepankan emosi dalam menyikapi perbedaan—serta kecerdasan spiritual sebagai basis dalam memperkuat dasar keagamaan.
Dengan demikian, dalam menghadapi perbedaan furu’iyyah, kita tidak mudah terkejut atau terpecah.
Beruntunglah Indonesia yang ditopang oleh dua organisasi besar, yaitu NU dan Muhammadiyah.
Semoga keduanya tetap eksis dalam memberikan sumbangsih bagi keberlanjutan dan kemajuan bangsa serta negara ke depan.
(Bumi Pambusuang, 17 Februari 2026)
| Ini Hukum Membaca Al-Qur’an dari Mushaf Saat Salat |
|
|---|
| Makna Nuzulul Quran bagi Umat Islam: Pedoman Hidup dan Pembentuk Akhlak Mulia |
|
|---|
| Keutamaan Salat Qobliyah Dzuhur, Cara Melaksanakan 4 Rakaat 2 Kali Salam, Ini Bacaan Zikir dan Doa |
|
|---|
| Sayyidul Ayyam, 9 Amalan Sunah Terbaik di Hari Jumat Membuka Pintu Berkah dan Ampunan |
|
|---|
| Ini Niat dan Tata Cara Sholat Taubat Nasuha 2 Rakaat, Amalan Anti Gelisah Hati |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.