Kamis, 21 Mei 2026

Khazanah Islam

Cerdas dan Tasamuh

Kita sebagai masyarakat Indonesia sudah sangat berpengalaman dalam perbedaan pendapat, serta cerdas dan tasamuh dalam menyikapinya.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Cerdas dan Tasamuh
dok Ilham Sopu
Ilham Sopu, salah satu cendikiawan Muslim asal Kabupaten Polman, Sulawesi Barat, sehari-hari sebagai pengajar di salah satu pondok pesantren di Pambusuang. 

Oleh: Ilham Sopu

Seandainya Nabi masih hidup, mungkin kita akan langsung bertanya kepada beliau mana yang benar, puasa hari Rabu atau puasa hari Kamis.

Tentu persoalan akan selesai dan tidak ada lagi yang saling menyalahkan. Namun, hari ini perbedaan itu kembali terjadi.

Apakah pada zaman Nabi pernah terjadi perbedaan di kalangan para sahabat? Tentu, sering terjadi perbedaan. Dan Nabi kerap tampil memberikan pemahaman atau penilaian terhadap pendapat para sahabat yang berbeda.

Seperti yang terjadi hari ini, ada yang bertanya, kapan Anda puasa? Rabu atau Kamis? Ikut Muhammadiyah atau NU/Menteri Agama? Masing-masing memiliki pengikut, argumentasi, dan dalil tersendiri.

Baca juga: Marhaban Ya Ramadan

Lalu bagaimana orang yang tidak puasa hari Rabu dalam pandangan orang yang puasa di hari Rabu? Apakah mereka berdosa? Dan bagaimana orang yang berpuasa di hari Rabu, padahal belum masuk Ramadan menurut versi yang berpuasa hari Kamis? Ini tentu menjadi persoalan.

Kita sebagai masyarakat Indonesia sudah sangat berpengalaman dalam perbedaan pendapat, serta cerdas dan tasamuh dalam menyikapinya.

Bertahun-tahun NU dan Muhammadiyah hidup dalam perbedaan pendapat, baik dengan tokoh-tokohnya masing-masing maupun secara keorganisasian. 

Hingga kini, dalam penentuan awal Ramadan dan Idulfitri pun masih sering terjadi perbedaan, sekalipun kedua organisasi ini memiliki tokoh sentral yang sangat dikagumi para pengikutnya.

Sederet tokoh kedua organisasi tersebut, seperti Ahmad Rasyid Fachruddin, Azhar Basyir, Ahmad Syafii Maarif, Abdurrahman Wahid, Hasyim Muzadi, Said Aqil Siradj, dan tokoh-tokoh lainnya, merupakan figur dengan pemikiran maju dan moderat.

Berbeda organisasi, tetapi memiliki semangat yang sama sebagai garda terdepan dalam memajukan keislaman, kemanusiaan, dan keindonesiaan.

Perbedaan dalam Ranah Khilafiyah

Kembali pada perbedaan di atas, hal tersebut tidak boleh dipertentangkan karena masih berada dalam ranah khilafiyah.

Dalam pandangan Prof. Quraish Shihab dalam salah satu bukunya, menyangkut dialog ketika masing-masing menyatakan kebenaran, itulah gambaran arti khilafiyah—pandangan yang meyakini bahwa kebenaran dalam perincian ajaran agama hanya satu.

Namun, beliau juga mengajak kita mendengar mereka yang berpendapat bahwa dalam perincian, boleh jadi kebenaran itu beragam selama semuanya menuntut rida Ilahi. Bukankah empat dapat diperoleh dari dua kali dua, tiga tambah satu, atau bentuk lainnya?

Ada riwayat bahwa Rasulullah pernah berpesan kepada sekelompok pasukan, “Janganlah salat Asar seorang di antara kamu kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” Perjalanan begitu panjang dan waktu Asar hampir berlalu.

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved