Literasi Ulama
Ziarah di Bulan Juni, To Salama Imam Lapeo
Menghidupkan Imam Lapeo dalam diri dengan menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari dengan belajar meneladani kehidupannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Zuhriah-Dosen-STIT-AL-CHAERIYAH-MAMUJU.jpg)
Oleh: Zuhriah
Dosen STIT AL-CHAERIYAH MAMUJU & Penulis Buku Konstruksi Kewalian Imam Lapeo di Masyarakat Mandar (2025).
JUNI adalah bulan yang dirindu, tak salah jika seorang penyair Sapardi Djoko Damono menuliskannya sebagai suatu karya sastra, puisi dengan judul: 'Hujan di Bulan Juni' yang menggambarkan tentang penantian pada sang kekasih. Pun begitu tepat 74 tahun yang lalu, setelah mangkatnya, Imam Lapeo, hingga kini makamnya selalu ramai, oleh peziarahnya selalu 'menantikan' kehadirannya.
KH Muhammad Thahir atau yang lebih dikenal dengan gelar Imam Lapeo adalah seorang sosok ulama sekaligus dipercaya sebagai wali Allah yang lahir di sekitar tahun 1838 walaupun ada juga yang menyebutkan 1839 di desa Pambusuang, kecamatan Balanipa, kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat yang kemudian wafat pada hari Selasa, 27 Ramadan 1362 H atau 17 Juni 1952 dalam usia 113 atau 114 tahun.
Imam Lapeo yang digelari juga sebagai To salama sebagai orang yang selamat dan dapat memberikan keselamatan ketika menjadi pegangan karena dari banyaknya fenomena spiritual para nelayan Mandar (khususnya) dan Sulawesi (umumnya) yang selamat dan sukses dalam mengarungi lautan luas ketika mencari ikan yang terkadang dihantam gelombang dan badai, namun setelah menyebut nama To Salama Imam Lapeo maka dengan izin Allah SWT mereka akan selamat.
Banyak kejadian luar biasa yang berkaitan dengan perjalanan hidup Imam Lapeo yang banyak dipercaya sebagai karamah beliau, sesuatu yang wajar ketika kita berbicara tentang kewalian. Namun, ada yang lebih dari pada itu bagaimana sosok Imam Lapeo dapat merangkul para penyabung ayam, pemabuk, dan pelaku perbuatan-perbuatan lain yang dilarang oleh agama, Imam Lapeo menasehatinya secara perlahan, yang akhirnya membuat masyarakat menjadikannya sebagai tauladan.
Kemudian, To Salama memiliki keberpihakan pada kaum papah, duafa, fakir miskin, yang dikisahkan masyarakat, jika ada seseorang yang terlilit hutang, Imam Lapeo membantu membayarkan utangnya dan juga mengajak agar lebih produktif, dengan mengajak seseorang tadi bekerja,diantaranya menjadi tukang di masjid, beternak, nelayan dan bertani.
Selain itu, toleransi beragama yang dilakukan oleh Imam Lapeo yang mempunyai relasi dengan orang - orang di luar Islam, dengan menerima umat lain untuk datang bertamu, berdialog dan berdoa di Lapeo, seperti sejumlah etnis Tionghoa tanpa menyuruh mereka meninggalkan agamanya. Walaupun demikian, salah seorang pedagang beretnis Tionghoa itu kemudian ada yang menyatakan dua kalimat sahadat pada Imam Lapeo dengan memeluk Islam.
Lapeo Kini
Para peziarah kini masih terus berdatangan menziarahi makamnya, terutama untuk bertemu dengan melalui ruang di dalam makam Imam Lapeo yang orang Mandar sebut sebagai Ko’bah. Sebuah bangunan yang berbentuk kubah yang didalamnya terdapat makam Imam Lapeo yang ada kayu nisannya dan bekas tempat tidur kayu beliau yang dibuat sebagai penanda di antara makam-makam keturunannya yang juga diletakkan di dikompleks makam dalam kurun beberapa tahun terakhir.
Bukan hanya makam Imam Lapeo yang diziarahi para peziarah, namun, ada juga masjid dan rumah beliau. Penulis menyebutnya sebagai 'Segitiga Spiritual' di Lapeo, tiga ruang peziarahan penting di Lapeo yaitu: Rumah, Masjid, dan Makam Imam Lapeo. penulis akan meminjam istilah penulis novel, Elizabeth Gilbert, “Eat, Pray, and Love”.
Jika rumah Imam Lapeo atau Boyang Kayyang (rumah besar) adalah ruang untuk makan (eat), di mana para peziarah yang datang ke sana biasanya mengadakan syukuran dengan memotong kambing, ayam, atau sekedar sebagai tempat makan-makan setelah melakukan doa bersama dengan turunan Imam Lapeo yang melanjutkan tradisi membaca doa setelah niat atau dan hajat peziarah tercapai seperti yang Imam Lapeo lakukan selama beliau hidup mendoakan orang-orang yang datang meminta agar didoakan.
Kemudian, Masjid atau Masigi yang beliau bangun bersama masyarakat pada zamannya hingga kini terus dibangun adalah ruang untuk bermunajat, berdialog dengan Tuhan (pray). Biasanya, peziarah merasa masjid Imam Lapeo adalah tempat yang dianggap maqbul dimana doa-doa peziarah biasanya terkabulkan.
Lalu, makam Imam Lapeo atau Ko’bah yang merupakan ruang cinta (love) antara peziarah Imam Lapeo dan peziarahnya sebagai ruang yang paling pribadi yang selalu rindu akan sosok kehadiran Imam Lapeo.
Menghidupkan Imam Lapeo dalam Diri
Setelah Eat, Pray, and Love di Lapeo lalu apa? Apa yang bisa kita peroleh dari ziarah Imam Lapeo ini? Bukan hanya sekedar makan-makan, berdoa, atau dan mencintai Imam Lapeo namun lebih dari itu menjadi Imam Lapeo Imam Lapeo baru.
Menghidupkan Imam Lapeo dalam diri dengan menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari dengan belajar meneladani kehidupannya.
Walaupun hanya sekedar berusaha menjadi orang jujur misalnya menjadi pedagang yang apa adanya seperti beliau yang pernah beliau lakukan, saat menjual sarung sutra di Padang, Sumatera Barat, bekerja keras membiayai pendidikannya dengan menjadi marbot di masjid Sunan Ampel, Surabaya. Menziarahi makam di makam Tosalama Binuang, Polewali Mandar, membaca Barzanji dan Yasin bersama jamaahnya, dan lain sebagainya.