Kamis, 23 April 2026

Opini

Man Behind the Gun Trump: The Domino Effect Reaching Indonesia

Dari kebijakan energi, perdagangan, teknologi, hingga keamanan global, keputusan yang diambil di Washington

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Man Behind the Gun Trump: The Domino Effect Reaching Indonesia
Istimewa
GEOPOLITIK GLOBAL- Ilustrasi dinamika kebijakan geopolitik Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump yang memicu efek domino terhadap ekonomi global, termasuk dampaknya pada perdagangan, energi, dan stabilitas ekonomi Indonesia. 

Akibatnya, subsidi energi dalam APBN membengkak hingga ratusan triliun rupiah, sementara masyarakat menghadapi kelangkaan bahan bakar di berbagai daerah.

Efek domino tidak berhenti di sektor energi. Kebijakan imigrasi ketat yang digagas Stephen Miller memicu deportasi massal jutaan pekerja migran dari Amerika Serikat. Kebijakan ini menciptakan kekurangan tenaga kerja di sektor pertanian Amerika.

Dampaknya adalah kenaikan biaya produksi dan lonjakan harga komoditas ekspor Amerika, termasuk kedelai.

Indonesia sebagai salah satu importir kedelai terbesar langsung terkena dampaknya. Harga tahu dan tempe—yang selama ini menjadi sumber protein murah bagi masyarakat—ikut melonjak. Bagi keluarga berpenghasilan rendah, kenaikan ini bukan sekadar angka statistik, tetapi persoalan nyata dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Di sektor lain, dinamika geopolitik Timur Tengah yang dipengaruhi jaringan diplomasi Jared Kushner kembali meningkatkan ketegangan regional. Ketidakstabilan jalur pelayaran di Laut Merah memaksa kapal dagang memutar rute melalui Afrika.

Biaya logistik ekspor Indonesia ke Eropa melonjak drastis. Akibatnya, industri tekstil dan garmen yang selama ini bergantung pada pasar Eropa menghadapi tekanan berat hingga memicu gelombang PHK.

Sementara itu, sektor teknologi global juga mengalami perubahan besar. Perdebatan tentang regulasi platform digital dan revisi kebijakan seperti Section 230 di Amerika ikut memengaruhi cara platform global beroperasi.

Di Indonesia, perubahan algoritma dan regulasi perdagangan digital membuat banyak pelaku UMKM yang bergantung pada social commerce kehilangan visibilitas pasar. Pendapatan mereka menurun signifikan.

Menariknya, situasi ini sekaligus membuka ruang bagi pasar tradisional untuk kembali bersaing.

Namun tekanan baru kembali muncul dari sektor keuangan digital. Deregulasi besar-besaran terhadap aset kripto di Amerika Serikat menyedot likuiditas global ke pasar keuangan AS. Modal asing keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan harga berbagai komoditas impor naik.

Di tengah semua dinamika tersebut, keputusan Amerika untuk menarik diri dari pendanaan iklim global juga memberi dampak tambahan bagi Indonesia. Hilangnya dukungan pendanaan untuk transisi energi membuat berbagai proyek lingkungan dan mitigasi bencana menjadi tertunda.

Dalam konteks negara kepulauan yang rentan terhadap perubahan iklim, situasi ini jelas bukan kabar baik.

Semua perkembangan tersebut menunjukkan satu hal: keputusan politik yang dibuat di Washington tidak pernah benar-benar berhenti di Amerika.

Ia bergerak seperti efek domino yang menjalar ke seluruh dunia.

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved