Jumat, 10 April 2026

Opini

Menjaga Badai Geopolitik

Di sisi lain, inflasi global diperkirakan melonjak dari 3,8 persen ke level 4,1 persen.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Menjaga Badai Geopolitik
Wahyu Adha for Tribun Sulbar
Akademisi Unsulbar Wahyu Maulid Adha 

Oleh : Dr Wahyu Maulid Adha
(Akademisi Unsulbar)

Sebuah Catatan Hasil FGD BI, Akademisi dan Peneliti Lembaga Riset di Palembang

Dunia kembali berada di ambang ketidakpastian hebat. Sejak akhir Februari 2026, pecahnya konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah mengubah peta proyeksi ekonomi global secara drastis.

Dalam merespons situasi darurat ini, Bank Indonesia (BI) melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 16-17 Maret 2026 mengambil langkah preventif yang krusial dengan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75 persen.

Keputusan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sebuah strategi "benteng" untuk melindungi stabilitas nilai tukar Rupiah dan memastikan inflasi domestik tetap terkendali di tengah ancaman transmisi krisis global yang kian nyata.

Tiga Jalur Ancaman Krisis Global

Berdasarkan hasil Forum Group Discussion (FGD) bersama akademisi dan peneliti lembaga riset baru-baru ini di Palembang, Bank Indonesia mengidentifikasi tiga jalur utama bagaimana perang Timur Tengah ini merambat ke ekonomi nasional:

1.    Jalur Harga Komoditas (Kenaikan Tajam): Ketegangan di Timur Tengah secara langsung mengguncang pasokan energi dunia.

Mengingat Iran menguasai sekitar 5 persen pangsa produksi minyak global dan Selat Hormuz menjadi jalur bagi hampir 20 persen suplai minyak dunia, gangguan distribusi di wilayah ini memicu lonjakan harga minyak dan gas.

Selain energi, harga emas sebagai aset aman (safe-haven) dan komoditas pertanian juga meroket, yang pada gilirannya akan mendorong inflasi global.

2.    Jalur Finansial (Pengetatan Likuiditas): Ketidakpastian pasar keuangan global memicu fenomena risk-off, di mana investor menarik modalnya dari negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia, untuk dialihkan ke aset aman di pasar uang Amerika Serikat.

Hal ini diperburuk dengan penguatan indeks dolar AS (DXY) dan kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun, yang semakin menekan nilai tukar mata uang negara berkembang.

3.    Jalur Perdagangan dan Produksi (Penurunan Volume): Disrupsi rantai pasok global tidak terelakkan lagi. Peningkatan biaya pengapalan dan premi asuransi akibat risiko perang menyebabkan volume perdagangan internasional menurun.

Bagi Indonesia, gangguan pada mitra dagang utama di kawasan tersebut dapat menghambat arus ekspor-impor dan meningkatkan biaya logistik nasional.

Revisi Proyeksi Ekonomi Dunia

Dampak perang ini telah memaksa lembaga internasional dan Bank Indonesia untuk mengoreksi angka pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 menjadi 3,1 persen, lebih rendah dari prakiraan sebelumnya sebesar 3,2 persen.

Di sisi lain, inflasi global diperkirakan melonjak dari 3,8 persen ke level 4,1 persen.

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved