Opini
Puasa Ruhani: Madrasah Pengendalian Diri
Pemikir Muslim Indonesia, Nurcholish Madjid, sering mengingatkan bahwa puasa memiliki makna yang jauh lebih luas
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Ilham-Sopu.jpg)
Oleh: Ilham Sopu
TRIBUN-SULBAR.COM- Setiap tahun, bulan Ramadan datang membawa suasana yang berbeda dalam kehidupan umat Islam. Masjid-masjid menjadi lebih hidup, lantunan ayat suci Al-Qur'an terdengar di berbagai tempat, dan masyarakat berlomba-lomba memperbanyak ibadah.
Namun di balik semua itu, ada pertanyaan penting yang patut direnungkan: apakah puasa yang kita jalankan benar-benar telah menyentuh dimensi terdalam dari diri kita, ataukah ia hanya berhenti pada sekadar menahan lapar dan dahaga?
Pemikir Muslim Indonesia, Nurcholish Madjid, sering mengingatkan bahwa puasa memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar ibadah fisik.
Puasa bukan hanya latihan menahan makan dan minum dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
Lebih dari itu, puasa adalah latihan ruhani untuk mengendalikan diri. Dalam bahasa yang sederhana, puasa adalah pendidikan spiritual agar manusia tidak diperbudak oleh hawa nafsunya sendiri.
Manusia, pada dasarnya, adalah makhluk yang memiliki berbagai dorongan dalam dirinya. Dorongan untuk makan, dorongan untuk memiliki, dorongan untuk marah, bahkan dorongan untuk menguasai orang lain.
Semua dorongan itu adalah bagian dari fitrah manusia. Namun persoalannya bukan pada keberadaan dorongan tersebut, melainkan pada kemampuan manusia untuk mengendalikannya. Tanpa kendali, manusia dapat terjerumus pada perilaku yang merendahkan martabatnya sendiri.
Di sinilah puasa memainkan peran penting. Ketika seseorang berpuasa, ia sebenarnya sedang menjalani latihan pengendalian diri yang sangat mendasar.
Ia menahan diri dari makan dan minum yang pada dasarnya halal. Jika terhadap sesuatu yang halal saja ia mampu menahan diri karena ketaatan kepada Allah, maka seharusnya ia lebih mampu lagi menahan diri dari hal-hal yang jelas dilarang.
Puasa, dengan demikian, adalah sekolah moral. Ia melatih manusia untuk menguasai dirinya sendiri.
Dalam pandangan Cak Nur, kebebasan sejati bukanlah kebebasan untuk mengikuti setiap keinginan, melainkan kemampuan untuk mengendalikan keinginan tersebut.
Orang yang tidak mampu menahan dirinya sesungguhnya adalah orang yang diperbudak oleh nafsunya sendiri. Sebaliknya, orang yang mampu mengendalikan nafsunya adalah orang yang merdeka secara spiritual.
Karena itu, keberhasilan puasa tidak dapat diukur hanya dari seberapa lama seseorang menahan lapar dan dahaga. Ukuran keberhasilannya justru terlihat pada perubahan sikap dan perilaku. Apakah setelah berpuasa seseorang menjadi lebih jujur? Apakah lisannya lebih terjaga dari dusta dan fitnah? Apakah hatinya lebih bersih dari iri dan dengki? Jika semua itu tidak berubah, maka puasa yang dijalankan mungkin baru menyentuh dimensi lahiriah, belum mencapai kedalaman ruhani.
Al-Qur'an sendiri telah menegaskan tujuan puasa dalam firman Allah pada QS. Al-Baqarah ayat 183: “la‘allakum tattaqūn”, agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa. Takwa di sini bukan sekadar konsep teologis, melainkan kesadaran moral yang hidup dalam diri seseorang. Ia adalah kesadaran bahwa Allah selalu hadir dalam setiap aspek kehidupan manusia.