Jumat, 8 Mei 2026

Opini

Puasa Ruhani: Madrasah Pengendalian Diri

Pemikir Muslim Indonesia, Nurcholish Madjid, sering mengingatkan bahwa puasa memiliki makna yang jauh lebih luas

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Puasa Ruhani: Madrasah Pengendalian Diri
Facebook Ilham Sopu
Ilham Sopu 

Kesadaran inilah yang menjadikan seseorang tetap jujur meskipun tidak ada yang mengawasi, tetap adil meskipun memiliki kekuasaan untuk berbuat sebaliknya, dan tetap menjaga diri dari keburukan meskipun memiliki kesempatan untuk melakukannya. Puasa melatih manusia untuk membangun integritas batin semacam ini.

Di sisi lain, puasa juga memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Lapar dan dahaga yang dirasakan selama berpuasa bukan sekadar pengalaman fisik, tetapi juga pengalaman empatik.

Ia membantu manusia merasakan, meskipun hanya sejenak, penderitaan mereka yang hidup dalam kekurangan. Dari pengalaman ini lahir kepekaan sosial, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama.

Karena itu, Ramadan seharusnya tidak hanya melahirkan manusia yang rajin beribadah secara ritual, tetapi juga manusia yang lebih peduli terhadap keadilan sosial. Puasa yang benar bukan hanya memperbaiki hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia.

Pada akhirnya, Ramadan adalah sebuah perjalanan ruhani. Ia adalah kesempatan bagi manusia untuk membersihkan hatinya, menata kembali orientasi hidupnya, dan memperbaiki kualitas kemanusiaannya.

Puasa mengajarkan bahwa manusia tidak harus selalu mengikuti setiap dorongan dalam dirinya. Ia memiliki kemampuan untuk menahan diri, untuk memilih yang benar, dan untuk menjaga martabatnya sebagai makhluk yang dimuliakan oleh Allah.

Jika puasa dijalankan dengan kesadaran seperti ini, maka Ramadan tidak sekadar menjadi bulan ritual tahunan. Ia menjadi madrasah kehidupan yang membentuk manusia yang lebih jujur, lebih rendah hati, dan lebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, terhadap sesama, dan terhadap Tuhan. Di situlah puasa menemukan makna terdalamnya: bukan hanya menahan diri dari yang membatalkan puasa, tetapi menahan diri dari segala sesuatu yang merusak kemanusiaan.(*)

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved