Kamis, 28 Mei 2026

Opini

Ramadan, Lelah, dan Risiko yang Tak Disadari

Setelahtarawih, obrolan berlanjut, layar ponsel tetap menyala, dan “sebentar lagi” menjadi alasan untuk menunda istirahat.

Tayang:
Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Ramadan, Lelah, dan Risiko yang Tak Disadari
Istimewa
Prima Trisna Aji-Dosen Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang 

 

Oleh :
Prima Trisna Aji

Dosen prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang

TRIBUN-SULBAR.COM- Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi
lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu hal: jam tidur yang bergeser pelan-pelan hingga lewat tengah malam.

Setelahtarawih, obrolan berlanjut, layar ponsel tetap menyala, dan “sebentar lagi” menjadi alasan untuk menunda istirahat. Tak lama kemudian, alarm sahur berbunyi. Tubuh bangun dalam keadaan belum benar-benar pulih.

Siang harinya, keluhan pun muncul: lemas, sulit fokus, emosi lebih pendek, kepala berat dan sebagian benar-benar tumbang. Kita sering menganggap situasi ini sebagai bagian dari suasana Ramadhan. Seolah- olah kelelahan adalah harga yang harus dibayar demi ibadah malam. 

Padahal dari sudut pandang kesehatan, tubuh tidak pernah menganggap kurang tidur sebagai hal biasa. Meta analisis kohort terbaru menunjukkan bahwa durasi tidur yang pendek berkaitan dengan peningkatan risiko hipertensi.

Risiko ini tidak kecil, dan tidak hanya terjadi pada kelompok usia lanjut. Kondisi tersebut menjadi semakin relevan di Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan hipertensi kini tidak lagi identik dengan usiatua; kelompok usia18-24 tahun pun sudah mencatat prevalensi dua digit, dan meningkat signifikan pada rentang 25-34 tahun.

Artinya, generasi produktif yang menjalani Ramadhan dengan ritme tidur yang makin pendek sesungguhnya sedang berada dalam zona rawan yang sering tidak disadari. Saya teringat seorang pasien, sebut saja Pak R berumur 38 tahun, pekerja kantoran yang merasa dirinya sehat. Minggu pertama Ramadhan berjalan lancar.

Ia tarawih setiap malam, lalu “sekadar” menemani teman berbincang hingga lewat tengah malam. Sahur
dilakukan terburu-buru menjelang imsak.  Siang hari ia mengejar target kerja sambil menahan kantuk dengan kopi menjelang berbuka.

Pekan kedua, ia datang dengan keluhan berdebar dan pusing. Tekanan darahnya melonjak. Ia kaget, karena merasa tidak sedang sakit apa-apa. Setelah ditelusuri, persoalannya bukan pada puasanya, melainkan pada tidur yang pendek dan pola makan malam yang semakin tidak terkendali.

Sejumlah penelitian tentang Ramadhan memang menunjukkan bahwa kualitas tidur sering menurun selama bulan puasa. Durasi tidur berkurang, tidur terfragmentasi, dan kantuk siang meningkat akibat pergeseran jadwal malam.

Studi kohort terbaru di JAMA Network Open bahkan melaporkan bahwa pola tidur yang secara konsisten kurang dan waktu tidur yang terlambat berkaitan dengan variabilitas gula darah yang lebih tinggi. Dalam bahasa
sederhana, gula darah menjadi lebih tidak stabil, sehingga tubuh lebih mudah lelah dan metabolisme lebih rentan terganggu.

Di sinilah ironi itu muncul. Ramadhan adalah bulan pengendalian diri, tetapi sering kali kita justru gagal mengendalikan ritme istirahat. Kita menahan lapar dan dahaga dengan penuh disiplin, namun longgar dalam menjaga jam tidur. Kita bersemangat menghidupkan malam, tetapi lupa bahwa tubuh memiliki jam biologis yang tidak bisa diabaikan tanpa konsekuensi.

Padahal, solusi yang diperlukan sesungguhnya tidak rumit, melainkan konsisten.Menata ulang malam agar tidak berlarut-larut setelah tarawih adalah langkah awal yang sederhana namun krusial. Tubuh membutuhkan waktu tidur yang cukup untuk memulihkan tekanan darah, menyeimbangkan hormon stres, dan menjaga stabilitas metabolisme.

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved