Rabu, 27 Mei 2026

Opini

Ramadan, Lelah, dan Risiko yang Tak Disadari

Setelahtarawih, obrolan berlanjut, layar ponsel tetap menyala, dan “sebentar lagi” menjadi alasan untuk menunda istirahat.

Tayang:
Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Ramadan, Lelah, dan Risiko yang Tak Disadari
Istimewa
Prima Trisna Aji-Dosen Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang 

Ketikamalam dapat diakhiri lebih awal, sahur pun dapat dilakukan tanpa tergesa-gesa, dengan pilihan makanan yang lebih rasional cukup protein, serat, dan cairan, bukan sekadar gula yang cepat menaikkan energi lalu menjatuhkannya kembali.

Di sisi lain, istirahat singkat pada siang hari sekitar dua puluh hingga tiga puluh menit dapat membantu menjaga kewaspadaan tanpa mengganggu tidur malam. Bagi mereka yang memiliki riwayat hipertensi atau diabetes, minggu pertama Ramadhan seharusnya menjadi fase pemantauan yang lebih cermat, bukan sekadar fase adaptasi yang diabaikan.

Pemeriksaan tekanan darah dan kadar gula yang lebih rutin pada awal puasa sering kali mencegah kekambuhan yang lebih serius. Lebih jauh lagi, Ramadhan juga menuntut dukungan sosial yang bijak. Lingkungan kerja dan keluarga dapat berperan dalam membangun budaya Ramadhan yang lebih sehat rapat yang tidak terlalu larut, aktivitas yang lebih terstruktur, dan pemahaman bahwa menjaga tidur bukanlah bentuk kemalasan, melainkan bagian dari tanggung jawab.

Ramadhan seharusnya menjernihkan jiwa tanpa melemahkan raga. Ibadah tidak pernah bertentangan dengan  kesehatan; yang sering bertentangan adalah kebiasaan kita sendiri. Jika Ramadhan adalah latihan spiritual, maka ia juga latihan manajemen diri. Dan mungkin, pelajaran yang paling sulit bukanlah menahan lapar, tetapi menahan diri untuk berhenti lalu tidur sebelum tubuh benar-benar menyerah.(*)

 

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved