Senin, 25 Mei 2026

Opini

Krisis Nilai Tukar Rupiah dari Generasi ke Generasi

Krisis nilai tukar generasi pertama bermula dari aliran hot money yang besar ke negara-negara Amerika Latin.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Krisis Nilai Tukar Rupiah dari Generasi ke Generasi
Tribun Sulbar / Ist
Dosen FEB Unhas/ Komisaris Utama PTPN IX Muhammad Syarkawi Rauf.(Ist) 

Krisis terjadi pada saat negara-negara Asia mengalami pertumbuhan ekonomi tinggi, inflasi rendah, defisit anggaran kurang dari 3,0 persen Gross Domestic Product (GDP), dan surplus neraca transaksi berjalan. 

Krisis nilai tukar generasi ketiga juga diawali oleh aliran masuk hot money sangat besar ke negara-negara Asia karena investor asing tergiur oleh pertumbuhan ekonomi tinggi.

Pada tahap selanjutnya diikuti oleh aliran modal keluar yang meruntuhkan regim nilai tukar tetap. 

Krisis Asia 1997 berbeda dengan krisis generasi pertama dan kedua di Amerika Latin.

Krisis Asia 1997 adalah krisis nilai tukar yang sangat luas karena menjalar ke negara-negara lain secara global.

Krisis ini ditandai oleh contagion effect, yaitu efek domino yang dimulai dari baht Thailand lalu menyebabkan krisis kepercayaan dan nilai tukar di negara-negara Asia lainnya.

Ekonom Dani Rodrik (2019) dari Harvard's John F. Kennedy School of Government, AS menyebut krisis Asia 1997 disebabkan oleh hyper-globalisation dari investasi ke negara-negara Asia.

Hal ini membuat harga saham di Asia, termasuk Indonesia meningkat 500 persen. 

Lalu, apakah tren depresiasi rupiah per dollar AS saat ini dapat menyebabkan krisis nilai tukar, seperti krisis generasi pertama, kedua dan ketiga? Apa mitigasi risiko yang dapat dilakukan pemerintah dan Bank Indonesia (BI)?

Sebagai perbandingan, pada saat krisis keuangan Asia 1997, pelemahan rupiah per dollar AS sangat cepat hingga mencapai 594 persen dalam setahun, yaitu dari Rp. 2.441 per dollar AS pada Juni 1997 menjadi Rp. 17.000 pada Juni 1998. 

Sementara saat ini, rupiah per dollar AS hanya melemah 5,30 persen, yaitu dari Rp. 16.120 per dollar AS pada 14 Agustus 2025 menjadi Rp. 16.975 per dollar AS pada 21 Januari 2025.

Pada saat yang sama, probabilitas terjadinya contagion effect dari negara lain sangat kecil, seperti krisis Asia 1997, dimulai dari speculative attack yang membuat mata uang baht Thailand terdepresiasi sebesar 20 persen hanya dalam sehari. 

Peluang terjadinya krisis generasi keempat, seperti krisis generasi pertama, kedua dan ketiga sangat kecil.

Namun, pemerintah dan BI tetap harus menyiapkan langkah mitigasi risiko terhadap fenomena pembalikan arus modal dari pasar surat utang negara yang ditandai oleh penurunan kepemilikan investor asing dari 41 persen tahun 2018 menjadi 13 persen tahun 2025. 

Hal ini tercermin pada net capital flow Indonesia yang negatif sejak kuartal pertama hingga ketiga 2025, yaitu out flow sebesar 387 juta dollar AS pada kuartal pertama 2025, sebesar 3,52 milyar dollar AS pada kuartal kedua 2025, dan 8,07 milyar dollar pada kuartal ketiga 2025. 

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved