Senin, 25 Mei 2026

Opini

Krisis Nilai Tukar Rupiah dari Generasi ke Generasi

Krisis nilai tukar generasi pertama bermula dari aliran hot money yang besar ke negara-negara Amerika Latin.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Krisis Nilai Tukar Rupiah dari Generasi ke Generasi
Tribun Sulbar / Ist
Dosen FEB Unhas/ Komisaris Utama PTPN IX Muhammad Syarkawi Rauf.(Ist) 

Oleh: Muhammad Syarkawi Rauf
(Dosen FEB Unhas dan Chairman ASEAN Competition Institute – ACI)

Krisis nilai tukar pasca-kesepakatan Bretton woods system tahun 1944 telah terjadi dalam tiga generasi krisis.

Dimulai dari krisis nilai tukar generasi pertama pada tahun 1980-an yang berpusat di negara-negara Amerika Latin, yaitu Chili, Brasil, Meksiko, dan Argentina.

Negara-negara tersebut menganut regim nilai tukar tetap terhadap dollar AS.    

Krisis nilai tukar generasi pertama bermula dari aliran hot money yang besar ke negara-negara Amerika Latin.

Lalu, terjadi tsunami aliran modal keluar jangka pendek (hot money) karena dipicu oleh kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada era Paul Volcker, ketua The Fed, sebagai respon terhadap inflasi ekstra tinggi di AS pada tahun 1979. 

Baca juga: Depresiasi Rupiah di Tengah Penguatan IHSG

Saat itu, peningkatan suku bunga dollar AS juga diikuti oleh penurunan ekstrim harga komoditas.

Hal ini menyebabkan negara-negara Amerika Latin tidak mampu membayar utang yang menggelembung dari 125 menjadi 800 milyar dollar AS pada akhir 1979. 

Selanjutnya, krisis nilai tukar generasi kedua tahun 1994 berpusat di Meksiko. Dimulai dari aliran modal masuk sangat besar setelah Meksiko bergabung dengan North Atlantic Free Trade Area (NAFTA).

Privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) meningkatkan efisiensi BUMN-nya sehingga menarik masuknya investor asing dalam jumlah besar. 

Namun, langkah tersebut masih disertai masalah kredibilitas pemerintah Meksiko menjaga nilai tukar tetap, terutama karena tingginya defisit neraca transaksi berjalan.

Nilai tukar peso Meksiko akhirnya mengalami depresiasi ekstrim hingga 50 persen karena aliran keluar hot money yang sangat besar. 

Kondisi ini memaksa pemerintah Meksiko mendevaluasi mata uangnya.

Kepercayaan investor terhadap peso Meksiko hilang yang membuat pemerintahnya meminta bantuan International Monetary Fund (IMF) pada awal tahun 1995. 

Krisis Asia 1997 dan Tantangan Stabilitas Rupiah Saat Ini

Sementara, krisis generasi ketiga terjadi di negara-negara Asia pada tahun 1997 yang berpusat di Thailand, Indonesia, Pilipina, Malaysia dan Korea Selatan.

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved