Kamis, 4 Juni 2026

Hari Guru Nasional

Hari Guru Nasional, Sebuah Refleksi Bangsa

Romantisme terhadap profesi guru memang tumbuh dari sejarah panjang bangsa ini.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Hari Guru Nasional, Sebuah Refleksi Bangsa
DOK MUH YUSRANG
MUH. Yusrang, S.H Penyuluh Agama Islam – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Mamuju Tengah 

Oleh: Muh Yusrang

SETIAP tanggal 25 November, ada gelombang kecil yang bergerak dalam ingatan banyak orang Indonesia, gelombang yang membawa kembali kenangan tentang guru.

Sosok yang mungkin dulu kita takuti, kita hormati, kita buat bangga, atau justru kita kecewakan.

Dalam momen peringatan Hari Guru Nasional, semua kenangan itu seperti kembali mengetuk hati, mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak pernah berjalan tanpa manusia yang berdiri di baris paling depan: guru.

Selama bertahun-tahun kita memeluk erat satu ungkapan yang terasa begitu akrab: pahlawan tanpa tanda jasa. Ungkapan yang terdengar indah, seakan menempatkan guru di singgasana moral yang tinggi.

Baca juga: Guru Itu Kurikulum Suci

Namun perlahan, kita mulai menyadari bahwa kalimat ini tidak hanya memberi penghormatan, tetapi juga menyelipkan beban yang sering tidak kita sadari.

Romantisme terhadap profesi guru memang tumbuh dari sejarah panjang bangsa ini.

Di masa awal kemerdekaan, guru adalah benteng pertama literasi dan pengetahuan, sering kali bekerja tanpa fasilitas memadai. Dari sana, kita mengaitkan profesi ini dengan pengabdian.

Namun romantisme yang sama kerap membuat kita lupa bahwa guru juga manusia—yang bisa lelah, takut, marah, dan terluka.

Padahal, dari banyak tokoh dunia hingga pemikir pendidikan Indonesia, pandangan mereka tegas: guru harus dihargai bukan karena mereka “rela menderita”, melainkan karena mereka memegang peran paling strategis dalam membentuk masa depan masyarakat.

Paulo Freire, seorang pemikir pendidikan asal Brasil, dalam karyanya Pedagogy of the Oppressed (1970), menegaskan bahwa guru bukan sekadar penyampai informasi, tetapi “penggerak kesadaran”.

Ia percaya pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, dan guru adalah fasilitator yang membebaskan murid dari ketidaktahuan. Pandangan Freire mengingatkan kita bahwa guru bukan pahlawan pasif, tetapi agen perubahan yang memerlukan ruang aman untuk bekerja secara kreatif.

Dari Indonesia sendiri, Ki Hadjar Dewantara telah jauh lebih dulu menyampaikan gagasan serupa dalam konsep Among yang tertuang dalam berbagai karangannya, terutama dalam tulisan-tulisannya yang kemudian dihimpun dalam Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan: Pendidikan Ki Hadjar Dewantara.

Ia tidak pernah menggambarkan guru sebagai sosok yang harus rela menderita. Baginya, guru adalah pemimpin yang “tumbuhnya kekuatan kodrat pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.”

Pandangan itu menempatkan guru sebagai profesi strategis yang memerlukan dukungan, bukan sekadar apresiasi simbolik.

Sementara itu, Maria Montessori—dokter dan pendidik asal Italia—dalam karyanya The Discovery of the Child (1909), menekankan bahwa keberhasilan pendidikan bukan berasal dari ketegaran guru, tetapi dari kemampuan mereka menciptakan ruang bagi anak berkembang sesuai kodratnya.

Montessori tidak pernah melihat guru sebagai “pahlawan yang harus berkorban”, tetapi sebagai profesi berkeahlian tinggi yang memerlukan pelatihan berkelanjutan dan dukungan sistemik yang kuat.

Pandangan para tokoh ini menunjukkan satu benang merah: penghargaan terhadap guru tidak boleh berhenti pada pujian. Guru memerlukan perlindungan, pelatihan, penghargaan profesional, dan dukungan struktural.

Terlebih hari ini, ketika tantangan yang dihadapi guru tidak lagi sederhana. Ada guru yang harus menghadapi murid yang terpapar gawai sejak dini, dunia digital yang bising, serta tekanan sosial yang datang dari berbagai arah. Kita sering mendengar kabar guru dipukul orang tua murid, dilaporkan karena menegur siswa, atau difitnah di media sosial.

Pada saat seperti itu, ungkapan “harus sabar” terdengar tidak lagi sebagai nasihat, melainkan beban tambahan yang tidak adil.

Hari Guru Nasional seharusnya menjadi waktu untuk melihat semua ini dengan jujur. Kita boleh terus menghormati guru sebagai “pahlawan”, tetapi kita juga perlu menyadari bahwa gelar itu tidak boleh membuat kita lupa memperjuangkan hak-haknya sebagai seorang profesional.

Para pemikir dunia dan tokoh pendidikan kita sendiri telah lama mengingatkan hal itu: guru adalah pusat dari kemajuan bangsa, dan profesi pusat tidak boleh dibiarkan tanpa perlindungan.

Jika pendidikan adalah jembatan yang menuntun generasi hari ini menuju masa depan, maka guru adalah penopang jembatan itu—mereka yang menata papan demi papan, memastikan tidak ada yang ambruk.

Dan bangsa yang baik bukanlah bangsa yang hanya memuji penopangnya, tetapi bangsa yang menjaganya agar tetap kuat.

Hari Guru Nasional kali ini menjadi kesempatan untuk kembali mengingatkan diri sendiri bahwa guru tidak memerlukan mitos kepahlawanan yang membebani.

Mereka membutuhkan dukungan nyata agar bisa menjalankan perannya sebagai manusia yang mendidik manusia lain. Mereka membutuhkan ruang untuk berkembang, untuk didengar, untuk dihargai, dan untuk dilindungi.

Mungkin itulah cara terbaik untuk menghormati guru: bukan hanya dengan ucapan, tetapi dengan memastikan bahwa kehidupan mereka lebih manusiawi.

Bahwa profesi mereka tidak lagi dibayangi ketakutan atau keterbatasan, tetapi dipenuhi kepercayaan dan penghargaan.

Agar pada akhirnya, ketika kita kembali mengucapkan “Selamat Hari Guru Nasiona”, kalimat itu tidak lagi menjadi slogan, melainkan wujud penghormatan dari bangsa yang benar-benar memahami betapa berharganya mereka.(*)

Sumber: Tribun sulbar
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved