Opini
Diskursus Akuntansi: SDM Beban atau Aset?
Diskursus ini penting untuk menghasilkan sebuah formulasi progresif, baik dalam kajian akuntansi maupun kebijakan publik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Intelektual-muda-NU-Muhammad-Aras-Prabowo.jpg)
Literatur akuntansi sumber daya manusia sejak lama mengadvokasi pengukuran dan pelaporan investasi dalam rekrutmen, pelatihan, dan retensi sebagai input strategis organisasi.
Tentu ada argumen kontra: dari sudut fiskal, negara menghadapi keterbatasan anggaran dan tekanan defisit; debat tentang efisiensi pengeluaran publik sah.
Namun framing yang menyederhanakan guru menjadi “beban” berisiko politisasi anggaran, mengabaikan nilai eksternalitas positif pendidikan: peningkatan produktivitas tenaga kerja, pengurangan ketimpangan, dan stabilitas sosial yang justru menurunkan beban fiskal jangka panjang.
Kritik kebijakan yang dewasa harus menggabungkan analisis biaya-manfaat jangka panjang, bukan retorika singkat.
Rekomendasi kebijakan dan akuntansi praktis: pertama, pemerintah perlu memperluas metrik pelaporan keuangan publik dengan indikator investasi SDM, misalnya pengeluaran untuk pelatihan per guru, rasio pelatihan/sertifikasi, retensi, dan outcome pembelajaran.
Sehingga anggaran pendidikan dinilai dalam kerangka pengembalian investasi sosial.
Kedua, lembaga pendidikan mesti membuat program pengembangan kompetensi berkelanjutan yang terukur; akuntansi manajerial harus memasukkan biaya manfaat pelatihan sebagai bagian dari perencanaan strategis.
Ketiga, diskursus publik perlu diluruskan: gunakan terminologi yang akurat (investasi vs beban) dan lawan disinformasi yang merusak moral guru.
Wacana SDM sebagai “beban” atau “aset” bukan hanya relevan dalam kebijakan publik, tetapi juga dalam dunia korporasi.
Dalam laporan keuangan perusahaan yang mengikuti International Financial Reporting Standards (IFRS), karyawan umumnya diposisikan sebagai beban operasional.
Gaji, bonus, tunjangan, bahkan biaya pelatihan dicatat sebagai expense. Padahal, literatur manajemen strategis menegaskan bahwa keunggulan kompetitif yang berkelanjutan sering kali bersumber dari pengetahuan, keterampilan, dan budaya organisasi yang dimiliki karyawan, bukan dari aset fisik semata.
Perusahaan besar seperti Google, Microsoft, atau Toyota telah membuktikan bahwa investasi jangka panjang pada pengembangan SDM memberikan pengembalian yang signifikan.
Toyota dengan lean management menempatkan pekerja sebagai agen inovasi, bukan sekadar faktor produksi. Google mengalokasikan anggaran besar untuk employee development dan workplace well-being, karena mereka sadar bahwa kreativitas dan retensi talenta adalah aset yang lebih berharga dibandingkan sekadar penghematan biaya jangka pendek.
Kesenjangan antara praktik akuntansi dan realitas strategis ini telah lama menjadi sorotan akademik. Guthrie & Murthy (2009) serta Lev (2001) menyoroti bahwa laporan keuangan konvensional gagal menangkap nilai intangible asset seperti human capital.
Dalam literatur akuntansi, inilah yang mendorong munculnya intellectual capital reporting dan integrated reporting yang berusaha memasukkan dimensi non-keuangan termasuk SDM ke dalam narasi korporasi.