Opini
Indonesia Emas 2045, Mimpi atau Fatamorgana?
Bonus demografi bukanlah jaminan, ia bisa berubah menjadi bencana demografi bila negara gagal
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Ketua-Bidang-Pembinaan-Ang.jpg)
Oleh : Rahmat Hidayat
Ketua Bidang Pembinaan Anggota Badko HMI Sulbar
TRIBUN-SULBAR.COM- Kita sering mendengar slogan Indonesia Emas 2045. Indah didengar, gagah diucapkan, tapi mari kita bertanya jujur, apakah kita benar-benar berjalan menuju emas, atau justru sedang terjebak dalam fatamorgana yang meninabobokan bangsa?
Apa arti bonus demografi kalau anak muda kita lebih banyak menganggur daripada berinovasi? Apa gunanya populasi produktif kalau sistem pendidikan kita hanya mencetak gelar, bukan kompetensi? Apa gunanya bicara “emas” kalau tubuh bangsa masih dibebani stunting dan literasi yang tertinggal?
Bonus demografi bukanlah jaminan, ia bisa berubah menjadi bencana demografi bila negara gagal menyiapkan kualitas manusia.
Apa arti hilirisasi kalau hanya berhenti di tahap paling dangkal? Kita bangga tidak lagi ekspor biji, tapi apa bedanya kalau kita hanya menjual ingat tanpa teknologi, tanpa riset, tanpa nilai tambah yang sejati? Hilirisasi tanpa inovasi hanyalah ekstraktivisme dengan kostum baru. Itu bukan jalan menuju emas, itu jalan berputar yang kembali ke jebakan lama.
Apa arti kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) kalau rakyat kecil tetap miskin, sementara oligarki menumpuk rente? Sejak era minyak hingga nikel hari ini, pola yang sama berulang, sumber daya dijarah, lingkungan dirusak, konflik sosial tak kunjung selesai.
Kalau SDA terus jadi bancakan elite, maka emas dijanjikan hanya akan berkilau di istana kekuasaan, sementara rakyat menonton dalam gelap.
Apa arti komitmen transisi energi kalau PLTU masih dibangun. Dunia sudah lari ke energi hijau, kita masih terikat pada batu bara. Apakah kita sadar ?? Ini bukan hanya soal lingkungan, ini soal daya saing. Kalau kita terus abai, produk kita akan ditolak, investasi akan pergi, dan Indonesia akan ditinggalkan. Inilah carbon lock-in, rantai yang kita pasang sendiri di kaki bangsa.
Dan yang paling penting, apa arti semua visi ini kalau hukum masih bisa dibeli, kalau politik masih dikuasai transaksi, kalau birokrasi masih jadi sarang rente... Indonesia Emas tidak akan lahir dari institusi yang rapuh. Tidak ada emas di negeri yang keadilannya dijual.
Kawan-kawan..
Indonesia punya potensi besar. Itu benar. Tapi potensi bukanlah prestasi. Potensi hanyalah utang kepada masa depan, dan utang itu harus dibayar dengan disiplin, inovasi, dan keberanian.
Kalau kita mau Indonesia Emas 2045 menjadi nyata, maka kita harus, Revolusi Pendikan, berhenti mencetak ijazah, mulai mencetak kompetensi. Hilirisasi Sejati, bukan sekadar memindahkan tambang ke pabrik, tapi menguasai teknologi dan riset.
Transparansi SDA, rakyat harus jadi tuan rumah, bukan korban. Transisi Energi tanpa kompromi.. lebih baik susah sebentar daripada hancur selamanya.
Supermasi Hukum yang tegas, karena tanpa keadilan, emas hanyalah fatamorgana. Indonesia Emas 2045 hanya akan lahir jika kita berani jujur, berani disiplin, dan berani menolak jalan pintas. Jika tidak, emas itu akan mencair jadi mimpi yang patah.
Maka pilihannya jelas, mau emas yang nyata, atau fatamorgana yang menipu.(*)