Kasus Kekerasan
Waspada! Anak Makin Rentan Jadi Korban Predator Seks di Dunia Digital
Fenomena ini disampaikan oleh Intan Hadiah Rastiti, SH dari Yayasan KAKAK yang selama ini aktif mendampingi korban kekerasan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Ilustrasi-pelecehan-seksual-pada-anak-di-Bala-balakang-Kabupaten-Mamuju-Sulbar.jpg)
“Sehingga memang kita nggak bisa bedakan. Di handphone dia belajar, searching video atau lagi browsing apa, kita kurang tahu nih anak kita ngapain nih,” jelas Intan.
Ia menegaskan, kondisi ini menjadi pintu masuk besar bagi predator seksual untuk mendekati anak-anak secara perlahan.
“Memang angkanya menyumbang angka cukup tinggi untuk kasus kekerasan seksual,” katanya.
Menurut Intan, banyak anak akhirnya terjebak karena merasa sedang disayangi, diperhatikan, atau dicintai.
Pelaku memanfaatkan kebutuhan emosional anak untuk membangun kedekatan.
Dalam sejumlah kasus, anak bahkan tidak merasa sedang menjadi korban.
“Kalau pelakunya adalah pacar, orang terdekat, kemudian orang yang bisa membuat mereka nyaman, itu bukan paksaan tapi lebih ke bujuk rayu,” ujarnya.
Pelaku biasanya memberikan perhatian, pujian, hadiah, hingga janji-janji tertentu agar anak menurut.
“Jadi memang anak-anak ini tidak ada rasa takut nih untuk melakukan,” katanya.
Situasi ini membuat kekerasan seksual online menjadi jauh lebih rumit dibanding sekadar ancaman fisik.
Sebab korban sering kali merasa dirinya sedang berada dalam hubungan yang normal.
Intan mengingatkan, orang tua tidak bisa lagi menganggap pendidikan seksual sebagai hal tabu.
“Anak 3 tahun sudah bisa lah dikasih tau bahwa tubuhmu itu hanya boleh dipegang kamu, mamah sama dokter kalau pas periksa,” katanya.
Ia menyebut edukasi sederhana tentang bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh justru bisa menjadi perlindungan awal bagi anak.
“Semakin cepat dia tahu, semakin cepat dia bisa menolong dirinya sendiri,” ujarnya.