Selasa, 2 Juni 2026

Bocah Akhir Hidup

Memprihatinkan, Bocah SD Akhiri Hidup Kembali Terjadi

Kabar menjadi hal yang sangat memprihatinkan. Menambah rentetan kasus bunuh diri pada anak usia dini di Indonesia.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Memprihatinkan, Bocah SD Akhiri Hidup Kembali Terjadi
Istimewa/ist
BOCAH BUNUH DIRI - Ilustrasi kasus bocah akhiri hidup kembali terjadi 

"Memang sebelumnya ibunya itu sempat beberapa kali chat marah-marah dan ada kata-kata kasar.

Tetapi penyebab korban gantung diri tidak bisa kita simpulkan karena hal itu, karena masih banyak faktor-faktor lainnya yang harus dilakukan pendalaman," ujar Anggah.

"Namun dari kejadian ini, kami harap para orang tua bisa lebih bijak dalam berkomunikasi dengan anaknya.

Selain itu, selalu perhatikan dan awasi aktivitas media sosial anak-anaknya sehingga anak merasa bahwa ada orang tua yang selalu hadir dan mendengarkan dirinya," tutupnya.

Kasus di NTT

Sebelumnya, siswa SD berinisial YBR (10 tahun) di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengakhiri hidup dengan gantung diri.

YBR mengakhiri hidup diduga karena tidak mampu memenuhi kebutuhan sekolah, yakni buku dan pulpen yang tersirat dalam secarik kertas tulisan tangan yang ditemukan polisi.

YBR ditemukan meninggal dunia setelah mengakhiri hidupnya di kebun dekat pondok bambu yang menjadi tempat tinggalnya bersama sang nenek di Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, Kamis, 29 Januari 2026.

Polres Ngada mengungkap ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi YBR mengakhiri hidup.

Polisi menyebut ada akumulasi berbagai tekanan yang dialami korban.

Kapolres Ngada, AKBP Andrey Valentino, menyampaikan salah satu faktor yang teridentifikasi adalah keterbatasan ekonomi keluarga, termasuk ketidakmampuan korban membeli buku dan alat tulis sekolah.

“Jadi, ada banyak faktor yang menyebabkan anak ini mengakhiri hidupnya,” kata Andrey, Kamis (5/2/2026), dilansir POS-KUPANG.com.

“Banyak faktor penyebabnya. Salah satunya terkait alat tulis,” lanjutnya.

Andrey menuturkan, pada malam sebelum kejadian, orang tua korban sempat menasihati YBR agar tidak bermain hujan-hujanan.

Menurutnya, nasihat tersebut disampaikan agar korban tidak jatuh sakit dan kembali meminta izin tidak masuk sekolah.

“Namun, mungkin cara penerimaan anak berbeda. Bisa saja anak merasa tersinggung atau tertekan."

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved