Logam Tanah Jarang
SDK Sebut Eksploitasi LTJ di Mamuju Masih Lama Masih Riset 10 Hingga 20 Tahun
walau memiliki potensi besar, Logam Tanah Jarang di Mamuju masih berada pada tahap penelitian
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Gubernur-Sulbar-Suhardi-Duka-saat-ditemui-di-Kantor-Gubernur-Sulbar-Senin-3032026.jpg)
Ringkasan Berita:1. hilirisasi LTJ masih memakan waktu 10 hingga 20 tahun adalah estimasi yang sangat objektif.
TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU – Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka (SDK) menuturkan Logam Tanah Jarang (LTJ) di Kabupaten Mamuju menarik minat pemerintah pusat untuk dikelola.
Sehingga pemerintah menunjuk Danantara dan membentuk PT Perminas sebagai bagian dari pengelolaan industri strategis nasional.
Baca juga: 138 CPNS Kemenag Sulbar Dilantik Jadi Pegawai Negeri Sipil Tersebar di 7 Satuan Kerja
Baca juga: Urai Kemacetan di SPBU Kali Mamuju Polisi Minta Sopir Truk Antre Solar di SPBU Lain
Namun SDK menggarisbawahi, walau memiliki potensi besar, Logam Tanah Jarang di Mamuju masih berada pada tahap penelitian dan belum memasuki fase produksi industri.
Keterbatasan teknologi pengolahan LTJ yang saat ini masih dikuasai sejumlah negara tertentu adalah penyebabnya.
“Teknologi pengolahan LTJ masih banyak dikuasai China. Indonesia belum memiliki teknologi itu, sementara negara lain seperti Amerika Serikat juga masih bergantung pada Cina,” kata SDK.
Ia menyebut sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, seperti Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia, masih melakukan riset terkait teknologi pengolahan logam tanah jarang dalam skala laboratorium.
SDK meminta masyarakat tidak beranggapan bahwa eksploitasi dan hilirisasi LTJ di Mamuju akan berlangsung dalam waktu dekat.
Menurutnya, proses pengembangan masih membutuhkan waktu panjang.
“Pengembangan LTJ di Mamuju kemungkinan masih membutuhkan waktu 10 hingga 20 tahun ke depan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, penelitian saat ini baru dilakukan di area sekitar 10 hektare, meski terdapat delapan blok kawasan potensial LTJ di Mamuju.
“Jadi nuansanya masih penelitian dan eksplorasi awal,” katanya.
Selain itu, SDK menegaskan tata kelola LTJ ke depan harus mengedepankan aspek lingkungan, kepentingan masyarakat, serta kesejahteraan warga di sekitar wilayah pengelolaan.
Menurutnya, pengembangan industri LTJ wajib memperhatikan keselamatan lingkungan dan masyarakat secara menyeluruh.
Ia berharap hilirisasi logam tanah jarang nantinya mampu memberikan kontribusi nyata bagi daerah, mulai dari penurunan angka kemiskinan, peningkatan pertumbuhan ekonomi, hingga penyerapan tenaga kerja lokal.
Cadangan Mineral Besar
| SDK Sebut Logam Tanah Jarang Mamuju Diperkirakan Produksi 10 hingga 20 Tahun Lagi |
|
|---|
| Rencana Tambang LTJ di Mamuju Potensi Rusaki Wilayah Resapan Air Hingga Kawasan Perbukitan |
|
|---|
| Radiah Dea: Botteng Rumah yang Harus Dijaga dari Ancaman Kerusakan Lingkungan |
|
|---|
| Sugianto Minta Pemprov Hati-hati Terhadap Rencana Pengelolaan Logam Tanah Jarang di Mamuju |
|
|---|
| Mamuju Diusulkan Jadi WIUP Logam Tanah Jarang Pertama di Indonesia |
|
|---|