Kamis, 21 Mei 2026

Logam Tanah Jarang

Radiah Dea: Botteng Rumah yang Harus Dijaga dari Ancaman Kerusakan Lingkungan

Radiah Dea yang juga merupakan putri asli Botteng menyebut tanah kelahirannya bukan wilayah kosong yang bisa dijadikan area eksploitasi tambang.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Radiah Dea: Botteng Rumah yang Harus Dijaga dari Ancaman Kerusakan Lingkungan
dokumen pribadi/Radiah Desa
TAMBANG LTJ - Pengurus Kopri PKC PMII Sulbar Radiah Desa 
Ringkasan Berita:
  • Pengurus KOPRI PKC PMII Sulbar, Radiah Dea, menolak rencana tambang logam tanah jarang di Botteng, Mamuju.
  • Ia menilai aktivitas tambang berpotensi merusak hutan, sungai, dan ruang hidup masyarakat.
  • Radiah menegaskan masyarakat dan perempuan Botteng akan terus melawan jika tambang dipaksakan masuk.

 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Pengurus KOPRI PKC PMII Sulawesi Barat, Radiah Dea, menolak keras rencana aktivitas tambang logam tanah jarang (LTJ) di wilayah Botteng, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.

Radiah Dea yang juga merupakan putri asli Botteng menyebut tanah kelahirannya bukan wilayah kosong yang bisa dijadikan area eksploitasi tambang.

“Saya bukan hanya berbicara sebagai pengurus KOPRI PKC PMII Sulawesi Barat. Saya berbicara sebagai putri asli Botteng, tanah yang membesarkan saya dan menyimpan jejak leluhur,” kata Radiah kepada Tribun-Sulbar.com di Mamuju, Selasa (19/5/2026).

Baca juga: Sugianto Minta Pemprov Hati-hati Terhadap Rencana Pengelolaan Logam Tanah Jarang di Mamuju

Baca juga: Rencana Hilirisasi Logam Tanah Jarang Mamuju Hanya Jadi Objek Eksploitasi Ekonomi Semata

Menurutnya, masyarakat Botteng selama ini hidup dengan menjaga hutan, sungai, dan tanah mereka secara turun-temurun.

Ia menilai rencana kehadiran tambang justru mengancam ruang hidup warga dan masa depan generasi mendatang.

Tambang Ancam Ruang Hidup Warga

Radiah mengatakan pembangunan tidak seharusnya dilakukan dengan cara merusak lingkungan dan mengorbankan masyarakat.

Ia menyoroti potensi kerusakan hutan, pencemaran sungai, hingga hilangnya sumber penghidupan warga apabila aktivitas tambang benar-benar dijalankan.

“Ada ibu-ibu yang menggantungkan hidup dari alam. Ada anak-anak yang tumbuh dengan harapan tentang masa depan. Lalu sekarang semuanya hendak dipertaruhkan demi tambang,” ujarnya.

Sebagai perempuan Botteng, Radiah menegaskan alam bukan warisan yang dapat dijual demi kepentingan tertentu.

Menurutnya, menjaga tanah dan lingkungan sama dengan menjaga kehidupan masyarakat.

Radiah juga menegaskan masyarakat tidak akan tinggal diam apabila rencana tambang logam tanah jarang tetap dipaksakan masuk ke wilayah Botteng.

“Kami akan terus berdiri bersama rakyat, bersama perempuan-perempuan kampung, bersama suara-suara kecil yang selama ini berusaha dibungkam,” katanya.

Ia menegaskan Botteng adalah rumah yang harus dijaga dari ancaman kerusakan lingkungan. (*)

Sumber: Tribun sulbar
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved