Literasi
Membaca Al-Quran, Menyelami Makna dan Teladan bagi Pekerti
Membaca Al-Qur’an adalah bentuk "perdagangan" dengan Allah yang pasti menguntungkan, karena setiap hurufnya bernilai pahala.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Muh-Yusrang-SH-Ketua-IPARI-Mamuju-Tengah.jpg)
Kita pun memiliki banyak teladan dari sahabat. Umar bin Khattab, yang awalnya keras dan kasar, luluh hatinya saat mendengar lantunan QS. Thaha.
Ia pun menjadi pemimpin adil yang takut kepada Allah. Itu adalah bukti bahwa Al-Qur’an bisa membalikkan keadaan, melunakkan hati yang keras, dan mengangkat derajat seseorang yang semula terpuruk.
Al-Qur’an sejatinya adalah cermin. Setiap ayatnya bisa menjadi refleksi bagi kita: apakah kita sudah ikhlas? Apakah kita masih bergelimang hasad? Apakah kita sudah benar dalam menyayangi orang tua, menjaga amanah, atau memuliakan tetangga?
"Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus." (QS. Al-Isra: 9)
Maka siapa yang menjadikan Al-Qur’an sebagai teman dekat, ia tak akan kehilangan arah. Siapa yang menjadikannya pedoman, ia akan menemukan cahaya dalam kegelapan.
Olehnya itu, di zaman penuh godaan ini, Al-Qur’an adalah satu-satunya jalan yang tak pernah menyesatkan.
Ia lebih dari sekadar bacaan di bulan Ramadan. Ia adalah teman setia di setiap waktu, pelipur lara di tengah gelisah, dan penunjuk jalan ketika dunia menawarkan banyak kebingungan.
Mari kita bukan hanya membaca, tetapi juga memahami, merenungi, dan mengamalkan. Mari kita jadikan Al-Qur’an sebagai napas kehidupan yang melahirkan pribadi-pribadi mulia, keluarga yang tenteram, dan masyarakat yang adil.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari, no. 5027)
Hal ini sejalan dengan upaya mulia yang saat ini digagas oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, Bapak H. Adnan Nota, melalui program "Gerakan Bebas Buta Aksara Al-Qur’an" (GBBAQ).
Program ini bukan hanya berfokus pada kemampuan teknis membaca huruf hijaiyah, tetapi juga menumbuhkan semangat untuk memahami dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Ini adalah ikhtiar besar membangun generasi Qur’ani, yang cerdas secara spiritual, kuat dalam moral, dan tangguh dalam menghadapi zaman.
Mari kita hidupkan Al-Qur’an dalam hati, dalam kata, dan dalam laku.
Sebab, jika Al-Qur’an telah bersemayam dalam pekerti, maka dunia akan menjadi tempat yang lebih damai, dan akhirat akan menjadi rumah yang penuh cahaya.(*)