Literasi
Membaca Al-Quran, Menyelami Makna dan Teladan bagi Pekerti
Membaca Al-Qur’an adalah bentuk "perdagangan" dengan Allah yang pasti menguntungkan, karena setiap hurufnya bernilai pahala.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Muh-Yusrang-SH-Ketua-IPARI-Mamuju-Tengah.jpg)
Oleh: Muh Yusrang
Penyuluh Agama Islam Mamuju Tengah
Di tengah riuh dunia yang sering membutakan mata dan membungkam hati, Al-Qur’an hadir sebagai pelita abadi yang tak pernah padam.
Ia bukan sekadar bacaan yang dibaca di waktu luang, bukan pula hanya hiasan di rak buku. Al-Qur’an adalah surat cinta Ilahi, pedoman hidup yang menuntun manusia dari gelap menuju cahaya, dari lalai menuju sadar, dari keras hati menuju pekerti yang lembut dan penuh kasih.
Membaca Al-Qur’an bukan sekadar melafalkan huruf-huruf Arab. Ia adalah perjalanan ruhani yang mendekatkan jiwa kepada Sang Pencipta. Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan melaksanakan salat serta menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi." (QS. Fathir: 29)
Menurut tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan bahwa orang yang tekun membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya dengan ikhlas akan memperoleh keuntungan dunia dan akhirat.
Membaca Al-Qur’an adalah bentuk "perdagangan" dengan Allah yang pasti menguntungkan, karena setiap hurufnya bernilai pahala.
Rasulullah SAW pun bersabda:
"Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka ia mendapatkan satu kebaikan. Dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan 'Alif Laam Miim' satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf, dan Miim satu huruf." (HR. At-Tirmidzi, no. 2910)
Begitu besar rahmat-Nya, hingga sekadar membaca saja sudah menjadi jalan menuju surga. Namun, keutamaan itu akan semakin berlipat ganda jika bacaan itu diresapi dan diamalkan.
Menyelami Makna: Menghidupkan Jiwa yang Layu
Betapa banyak dari kita yang membaca Al-Qur’an dengan lancar, namun hatinya belum tersentuh oleh maknanya. Seperti air yang mengalir di atas batu, tidak menetes ke dalamnya. Padahal Allah menegaskan:
"Apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur’an? Ataukah hati mereka telah terkunci?" (QS. Muhammad: 24)
Menurut tafsir Al-Jalalain, ayat ini adalah teguran kepada orang-orang yang membaca tanpa merenungkan. Tafakkur (merenung) adalah jembatan antara ilmu dan amal.
Ketika seseorang menyelami makna Al-Qur’an, ayat demi ayat akan berbicara langsung ke dalam jiwanya, seolah-olah Allah sedang menasihatinya secara pribadi.