Jumat, 17 April 2026

Literasi

Membaca Al-Quran, Menyelami Makna dan Teladan bagi Pekerti

Membaca Al-Qur’an adalah bentuk "perdagangan" dengan Allah yang pasti menguntungkan, karena setiap hurufnya bernilai pahala.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Membaca Al-Quran, Menyelami Makna dan Teladan bagi Pekerti
Istimewa
Muh Yusrang S.H, Ketua IPARI Mamuju Tengah dan Nominator Penyuluh Agama Islam Award Nasional 2023 & 2024 

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyebutkan bahwa orang yang hanya membaca Al-Qur’an tanpa memahami maknanya seperti seseorang yang mengirim surat kepada kekasihnya, namun tidak membacanya dengan penuh perhatian:

"Al-Qur’an adalah surat dari Tuhanmu. Maka renungilah ia seolah-olah engkau sedang membaca surat dari seseorang yang paling engkau cintai."

Bahkan Jalaluddin Rumi, sang penyair sufi, menggambarkan Al-Qur’an sebagai taman spiritual yang hanya bisa dinikmati oleh jiwa yang lapar akan makna. Beliau menulis dalam syairnya:

“Al-Qur’an bukan untuk dibaca oleh lidah yang tergesa, melainkan untuk diserap oleh hati yang haus. Ayat-ayatnya ibarat hujan bagi ladang jiwa yang kering.”

Syair Rumi itu mempertegas bahwa makna Al-Qur’an akan tumbuh subur hanya di tanah hati yang siap disirami oleh cahaya ilahi.

Begitu pula Hamka, dalam tafsir Al-Azhar, berkata:

"Jika engkau ingin menemukan makna hidup, bacalah Al-Qur’an dan resapilah. Karena setiap ayatnya adalah nasihat yang tak lekang oleh zaman, penyejuk di kala panasnya cobaan.”

Sejalan dengan itu, Syekh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menulis dalam Miftah Dar al-Sa’adah:

"Sesungguhnya dalam Al-Qur’an terdapat taman-taman hikmah. Siapa yang masuk ke dalamnya dengan merenung, ia akan mendapatkan buahnya berupa iman yang hidup dan akhlak yang luhur.”

Makna Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tapi untuk dihidupkan dalam diri—agar ia menjadi cahaya yang membentuk sikap, akhlak, dan arah langkah kita.

Teladan Pekerti: Al-Qur’an yang Hidup dalam Pribadi Rasulullah SAW

Jika ingin melihat Al-Qur’an dalam bentuk nyata, maka lihatlah pribadi Nabi Muhammad ﷺ. Aisyah radhiallahu 'anha pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah, dan ia menjawab: "Akhlak beliau adalah Al-Qur’an." (HR. Muslim, no. 746)

Beliau adalah wujud nyata dari ajaran Al-Qur’an—beliau penyayang, jujur, sabar, rendah hati, dan tegas dalam kebenaran. Bahkan saat dihina dan disakiti, beliau memilih untuk memaafkan.

Dalam peristiwa Thaif, ketika beliau dilempari batu dan ditolak, beliau hanya berkata: "Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena mereka tidak tahu."

Rasulullah mengajarkan bahwa membaca Al-Qur’an bukan sekadar ibadah lisan, melainkan transformasi diri.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved