Opini
Gerakan “Ayah Mengantar Anak ke Sekolah”: Antara Niat Baik dan Suara-suara yang Perlu Didengar
Semua bergantung pada bagaimana kita sebagai orang dewasa menyikapi dan merespons situasi ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Irna-Megawaty-SKepNsMKep.jpg)
Sementara itu, studi dari Hetherington dan Kelly (2002) menyatakan, anak-anak dari keluarga bercerai dapat tumbuh sehat secara emosional apabila mendapat dukungan sosial yang komunikatif dan penuh kasih.
Jadi, apakah gerakan ini otomatis melukai? Tidak harus demikian.
Dengan syarat, ada komunikasi yang jujur, hangat, dan empatik antara orang tua dan anak mengenai kondisi keluarga masing-masing.
Orang tua, terutama ibu atau wali, dapat menjelaskan dengan lembut bahwa ketidakhadiran ayah bukan berarti ketidaksayangan, melainkan karena alasan yang tak bisa dihindari, seperti bekerja jauh atau telah tiada.
Dengan penjelasan yang manusiawi, anak akan merasa dihargai dan tidak merasa berbeda dari teman-temannya.
Dalam banyak kasus, kehadiran pengganti yang penuh kasih bisa menjadi cukup.
Karena bagi anak-anak, yang paling penting bukan siapa yang hadir, tapi bagaimana mereka merasa dicintai, dimengerti, dan aman.
Dalam konteks ini, peran guru, pengasuh, dan komunitas sangat krusial untuk menciptakan sistem dukungan emosional yang kuat.
Jangan sampai program seperti ini hanya menonjolkan siapa yang “punya” ayah, dan siapa yang tidak.
Alih-alih menjadi pemicu luka sosial, gerakan ini semestinya menjadi ajakan reflektif bagi para ayah untuk lebih hadir, dan bagi masyarakat untuk menyediakan dukungan bagi anak-anak dengan latar belakang keluarga yang berbeda.
Sebagai penutup, mari kita tarik hikmah dari falsafah budaya Mandar: "Sibali Parri", yang berarti suami istri saling menopang satu sama lain, termasuk dalam hal pengasuhan.
Semangat gerakan ini bukan semata tentang siapa yang mengantar anak ke sekolah, melainkan tentang bagaimana kehadiran orang tua, terutama ayah menjadi lebih nyata dan bermakna dalam kehidupan anak-anak kita.(*)
| Prabowonomics Mengubah Market Share Menjadi Market Power |
|
|---|
| Keberpihakan terhadap Ekologi Perspektif Sustainable Ethics dan Ekoteologi Kontekstual di Mamasa |
|
|---|
| Manipulasi Narasi Digital & Profesionalisme Penegakan Hukum: Melawan Arus Trial by Social Media |
|
|---|
| Momentum Pertumbuhan dan Tantangan Kualitas Belanja |
|
|---|
| Ancaman Narkoba di Ujung Jari |
|
|---|