Minggu, 31 Mei 2026

Opini

Gerakan “Ayah Mengantar Anak ke Sekolah”: Antara Niat Baik dan Suara-suara yang Perlu Didengar

Semua bergantung pada bagaimana kita sebagai orang dewasa menyikapi dan merespons situasi ini.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Gerakan “Ayah Mengantar Anak ke Sekolah”: Antara Niat Baik dan Suara-suara yang Perlu Didengar
Istimewa
OPINI - Irna Megawaty, S.Kep.,Ns.,M.Kep, penulisan Opini Gerakan “Ayah Mengantar Anak ke Sekolah”: Antara Niat Baik dan Suara-Suara yang Perlu Didengar 

Oleh: Irna Megawaty, S.Kep.,Ns.,M.Kep

WACANA tentang "Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah" belakangan menjadi pembahasan hangat di ruang-ruang publik.

Di satu sisi, ini merupakan angin segar, sebuah upaya untuk mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak, yang selama ini kerap dibebankan hampir sepenuhnya kepada ibu.

Secara pribadi, saya memandang gerakan ini bukan sekadar ajang seremonial, tetapi langkah awal yang baik untuk memperkuat relasi emosional antara ayah dan anak sejak dini.

Ini adalah bentuk sederhana dari kehadiran yang bermakna.

Sejumlah studi telah membuktikan, keterlibatan aktif kedua orang tua dalam pengasuhan dapat membentuk anak yang lebih percaya diri, memiliki regulasi emosi yang baik, dan mampu menjalin hubungan sosial yang lebih sehat (Lamb, 2010; Sarkadi et al., 2008).

Bahkan hanya sekadar mengantar anak ke sekolah, dapat menjadi simbol kasih sayang yang sederhana, namun kuat.

Namun, perlu kita sadari, tidak semua anak memiliki sosok ayah yang hadir secara fisik. 
Ada anak yang ditinggal wafat, orang tua yang bercerai, atau ayah yang bekerja jauh dari rumah.

Dalam konteks ini, muncul pertanyaan: apakah gerakan semacam ini bisa melukai perasaan anak-anak tersebut?

Jawabannya: bisa iya, bisa tidak. 

Semua bergantung pada bagaimana kita sebagai orang dewasa menyikapi dan merespons situasi ini.

Anak yang kehilangan figur ayah karena berbagai sebab memiliki kerentanan emosional tersendiri.

Perasaan berbeda atau "kurang" bisa muncul ketika mereka melihat teman-temannya diantar oleh sang ayah.

Namun, menurut teori coping dari Lazarus dan Folkman (1984), anak-anak memiliki mekanisme adaptasi yang disebut coping mechanism—baik dalam bentuk pengelolaan emosi (emotion-focused coping) maupun pendekatan berbasis solusi (problem-focused coping).

Penelitian Martin dan Jackson (2002) menunjukkan, figur pengasuh alternatif seperti ibu, kakek, paman, atau guru, dapat berperan penting dalam mengisi kekosongan peran ayah, dan membantu anak melewati fase transisi emosional dengan lebih stabil.

Sementara itu, studi dari Hetherington dan Kelly (2002) menyatakan, anak-anak dari keluarga bercerai dapat tumbuh sehat secara emosional apabila mendapat dukungan sosial yang komunikatif dan penuh kasih.

Jadi, apakah gerakan ini otomatis melukai? Tidak harus demikian.

Dengan syarat, ada komunikasi yang jujur, hangat, dan empatik antara orang tua dan anak mengenai kondisi keluarga masing-masing.

Orang tua, terutama ibu atau wali, dapat menjelaskan dengan lembut bahwa ketidakhadiran ayah bukan berarti ketidaksayangan, melainkan karena alasan yang tak bisa dihindari, seperti bekerja jauh atau telah tiada.

Dengan penjelasan yang manusiawi, anak akan merasa dihargai dan tidak merasa berbeda dari teman-temannya.

Dalam banyak kasus, kehadiran pengganti yang penuh kasih bisa menjadi cukup.

Karena bagi anak-anak, yang paling penting bukan siapa yang hadir, tapi bagaimana mereka merasa dicintai, dimengerti, dan aman.

Dalam konteks ini, peran guru, pengasuh, dan komunitas sangat krusial untuk menciptakan sistem dukungan emosional yang kuat.

Jangan sampai program seperti ini hanya menonjolkan siapa yang “punya” ayah, dan siapa yang tidak.

Alih-alih menjadi pemicu luka sosial, gerakan ini semestinya menjadi ajakan reflektif bagi para ayah untuk lebih hadir, dan bagi masyarakat untuk menyediakan dukungan bagi anak-anak dengan latar belakang keluarga yang berbeda.

Sebagai penutup, mari kita tarik hikmah dari falsafah budaya Mandar: "Sibali Parri", yang berarti suami istri saling menopang satu sama lain, termasuk dalam hal pengasuhan.

Semangat gerakan ini bukan semata tentang siapa yang mengantar anak ke sekolah, melainkan tentang bagaimana kehadiran orang tua, terutama ayah menjadi lebih nyata dan bermakna dalam kehidupan anak-anak kita.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved