Jumat, 22 Mei 2026

OPINI

KKSS Konsolidator Ekonomi untuk Negeri

Langkah ini sangat relevan di tengah krisis global dan ketergantungan impor yang masih membayangi bangsa.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto KKSS Konsolidator Ekonomi untuk Negeri
Muhammad Aras Prabowo
INTELEKTRUAL MUDA NU - Intelektual muda NU Muhammad Aras Prabowo menilai kebijakan terbaru Bulog wajib membeli Gabah Kering Panen (GKP) petani dengan harga Rp6.500 per kilogram tanpa syarat kualitas adalah langkap positif. Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani 

Oleh: Muhammad Aras Prabowo
Anggota Departemen Cendekiawan BPP KKSS 2025–2030 | Pengamat Ekonomi UNUSIA

Dalam sejarah panjang masyarakat Bugis-Makassar, semangat merantau bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan juga perpindahan nilai: semangat kerja keras dan dedikasi untuk kemajuan.

Di tengah diaspora besar masyarakat Sulawesi Selatan di berbagai penjuru tanah air dan dunia, Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) hadir sebagai wadah pemersatu dan penggerak semangat kolektif warga perantauan asal Sulsel.

Didirikan secara resmi pada tahun 1976, KKSS lahir dari kesadaran bahwa identitas, solidaritas, dan pengabdian terhadap tanah air harus terus dijaga dan ditumbuhkan—bukan hanya demi kepentingan komunitas sendiri, melainkan juga untuk negeri secara keseluruhan.

Seiring waktu, KKSS telah menjelma dari organisasi kekeluargaan menjadi gerakan sosial-kultural berskala nasional. Keberadaannya tidak hanya dirasakan oleh anggotanya, tetapi juga oleh masyarakat luas.

Dengan jaringan yang tersebar dari tingkat pusat hingga daerah, bahkan luar negeri, KKSS aktif dalam kegiatan sosial, kebencanaan, pendidikan, keagamaan, hingga ekonomi.

Dalam berbagai momentum krisis nasional, KKSS hadir sebagai agen solidaritas kemanusiaan—baik melalui bantuan langsung, pembangunan fasilitas umum, maupun advokasi sosial bagi masyarakat kecil.

Kini, di bawah kepemimpinan Dr. H. Andi Amran Sulaiman, M.P., yang terpilih sebagai Ketua Umum BPP KKSS periode 2025–2030, KKSS memasuki babak baru transformasi organisasi.

Sosok Amran Sulaiman, yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian RI, membawa visi besar: menjadikan KKSS sebagai organisasi modern, produktif, dan kontributif terhadap pembangunan nasional.

Kepemimpinannya menandai era profesionalisasi organisasi yang berbasis nilai budaya dan kecendekiaan.

Salah satu gebrakan penting dari kepemimpinan Amran Sulaiman adalah inisiasi pendirian sekolah dan universitas unggulan KKSS. Ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur pendidikan, melainkan representasi dari visi jangka panjang: mencetak generasi unggul asal Sulawesi Selatan yang berdaya saing global tanpa meninggalkan akar budayanya.

Lembaga pendidikan ini akan menjadi ruang aktualisasi nilai ke-Bugis-an yang adaptif terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Lebih dari sekadar simbol pembangunan, transformasi KKSS kini diarahkan pada penguatan peran strategis dalam sektor pangan dan ekonomi.

Sebagai seorang praktisi dan teknokrat di bidang pertanian, Amran Sulaiman membawa misi besar agar KKSS berkontribusi aktif dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional.

Langkah ini sangat relevan di tengah krisis global dan ketergantungan impor yang masih membayangi bangsa.

Dengan jaringan petani, pengusaha, dan profesional asal Sulsel di berbagai wilayah, KKSS diyakini mampu menjadi kekuatan alternatif dalam membangun sistem pangan berbasis komunitas dan lokalitas.

Tak hanya soal pangan, KKSS juga berperan penting dalam mendorong kemandirian ekonomi nasional. Banyak anggota KKSS kini menjadi pengusaha sukses di berbagai sektor—mulai dari perdagangan, konstruksi, pertanian, hingga teknologi.

Dalam skema baru kepengurusan, ada semangat kuat untuk membangun sinergi ekonomi antarsesama warga KKSS sebagai basis kekuatan ekonomi kerakyatan.

Konsep koperasi modern, jaringan usaha antarwilayah, hingga inkubator bisnis berbasis pemuda dan perempuan akan menjadi agenda penting lima tahun ke depan.

Sebagai bagian dari Departemen Cendekiawan BPP KKSS, saya melihat momen ini sebagai peluang besar bagi komunitas intelektual Bugis-Makassar untuk berkontribusi lebih luas. Ini adalah era ketika ilmu pengetahuan dan nilai budaya harus berjalan beriringan.

Kita tidak hanya diajak menjaga identitas, tetapi juga membangun masa depan bersama melalui riset, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor. Departemen ini akan menjadi rumah bersama bagi para akademisi, dosen, peneliti, dan profesional untuk menyumbangkan gagasan dan aksi nyata bagi negeri.

“KKSS mengabdi untuk negeri” bukanlah slogan kosong. Ini adalah wujud nyata dari semangat sipakatau, sipakainge, dan sipakalebbi—nilai luhur masyarakat Sulawesi Selatan yang menjunjung tinggi kemanusiaan, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan menghormati sesama.

Di tengah zaman yang serba cepat dan kompetitif, nilai-nilai ini justru menjadi fondasi kuat dalam membangun peradaban yang inklusif, adil, dan berkelanjutan.

Maka, dengan tekad yang terorganisir dan visi yang tajam, KKSS hari ini bukan hanya rumah besar bagi orang Sulsel, tetapi juga mitra strategis bangsa dalam mewujudkan kedaulatan pangan, kemandirian ekonomi, dan masa depan generasi unggul Indonesia.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved