Selasa, 19 Mei 2026

Mamasa

Harga Minyak Nilam di Mamasa Anjlok, Petani Mulai Cemas

Aslan, seorang petani setempat, mengungkapkan kebingungan dan kekesalannya atas fluktuasi harga mingguan

Tayang:
Penulis: Hamsah Sabir | Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Harga Minyak Nilam di Mamasa Anjlok, Petani Mulai Cemas
Hamsah Sabir/Tribun-Sulbar.com
HARGA MINYAK NILAM ANJLOK - Kebun petani Nilam di Dusun Kata-kata, Desa Botteng, Kecamatan Mehalaan, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar). Harga minyak nilam saat ini anjlok dari Rp 1,8 miliar menjadi Rp 900 ribu per kilogram. 

TRIBUN-SULBAR.COM,MAMASA- Harga minyak nilam di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, terus merosot tajam hingga menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan petani setempat.

Beberapa bulan lalu, harga sempat mencapai Rp 1,8 juta per kilogram.

Kemudian turun menjadi Rp 800.000-Rp 950.000, dan hingga Selasa, 17 Juni 2025, harganya kembali anjlok hingga mencapai Rp750.000 per kilogram .

Pembeli minyak nilam, membenarkan adanya penurunan harga terbaru tersebut. 

Baca juga: Update Kecelakaan Maut di Mamuju Tengah, 2 Tewas dan 12 Lainnya Luka-luka

Baca juga: Heboh Pamflet Nikah Massal di Sulbar, Kemenag Tegaskan Hanya untuk Jabodetabek

Ia mengatakan penurunan harga tersebut sudah terjadi sejak awal pekan ini. 

"Sekarang sudah Rp 750.000 per kilogram," kata Sono kepada Tribun-Sulbar.com, Rabu, 18 Juni 2025.

Penurunan harga yang terus-menerus ini membuat banyak petani nilam di Mamasa merasa tidak tenang. 

Aslan, seorang petani setempat, mengungkapkan kebingungan dan kekesalannya atas fluktuasi harga mingguan.

Ia mencatat dalam beberapa bulan terakhir, petani optimis karena harga yang menjanjikan, tetapi penurunan yang terus-menerus ini justru membuat mereka patah semangat.

"Kami bingung saja, karena setiap akhir pekan kami menunggu harga berubah, bukannya naik, malah turun terus," keluh Aslan.

Aslan menyoroti bahwa hampir 70 persen petani di daerah pedesaan di tiga kecamatan di Mamasa telah beralih menanam nilam.

Ia khawatir jika harga terus turun, hal itu akan sangat menurunkan moral petani.

Para petani kini berharap harga akan stabil dan kembali ke tingkat normal. 

"Jika harga terus turun, kami khawatir keadaan akan seperti sebelumnya, ketika banyak yang menanamnya tetapi akhirnya tidak dapat menjualnya," pungkas Aslan.(*)


Laporan Reporter Tribun-Sulbar.com, Hamsah Sabir.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved