Opini
Jangan Hanya Sekadar Bergelar 'Pak Haji' dan 'Bu Haji'
haji itu bukan sekadar ibadah fisik. Ia adalah revolusi jiwa, penyucian batin, dan ikrar suci untuk kembali sebagai manusia yang lebih lurus
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Potret-Jemaah-Haji-kloter-39-Embarkasi-Makassar-saat-melaksanakan-ibadah-haji-di-Makkah.jpg)
Oleh: Furqan Mawardi
Muballigh Akar Rumput
TRIBUN-SULBAR.COM - Setiap kali jamaah haji kembali ke tanah air, kampung-kampung mulai kembali ramai.
Tidak lagi dengan suara talbiyah, tetapi dengan banyaknya syukuran-syukuran serta beragamnya jamuan tasyakuran, dan yang tentu yang khas adalah gelar baru yang disematkan “Pak Haji”, “Bu Hajjah” bagi yang baru pulang haji. Ada kebanggaan, tentu saja.
Bahkan seringkali secara tak sadar ada juga gengsi dan kehormatan sosial yang melekat dalam sebutan itu. Tapi di balik semua itu, saya ingin bertanya apakah cukup menjadi ‘Pak Haji’, tanpa menjadi penjaga nilai-nilai Ilahi?
Saya menyaksikan sendiri, bagaimana para jamaah haji itu bersimpuh di depan Ka'bah.
Ada yang menangis berjam-jam dalam sunyi, ada yang berdoa lirih memohon hidup baru, ada pula yang dengan sungguh-sungguh bertekad memperbaiki diri.
Tapi saat kaki telah menjejak kembali di tanah air, apakah tekad itu masih menyala?
Ataukah semua rencana perubahan itu luntur dalam hiruk-pikuk kehidupan yang berjalan seperti biasa?
Padahal, haji itu bukan sekadar ibadah fisik. Ia adalah revolusi jiwa, penyucian batin, dan ikrar suci untuk kembali sebagai manusia yang lebih lurus, jujur, bersih, dan peduli.
Bila nilai-nilai itu tidak kita bawa pulang, maka yang kita tinggalkan hanyalah jejak kaki di tanah Haram, bukan jejak manfaat di tanah kelahiran.
Dulu, saya sering bertanya-tanya, mengapa kata “mabrur” tidak pernah dijelaskan secara teknis dalam Al-Qur’an atau hadis? Apa definisinya? Apa standarnya?
Lama-lama saya baru memahami bahwa kemabruran itu bukan hanya soal ritual, tetapi soal aktual.
Ia bukan tentang betapa khusyuknya kita thawaf, tapi sejauh mana kita berubah. Ia bukan tentang seberapa panjang doa kita di Multazam, tapi apakah kita menjadi pribadi yang lebih jujur, lebih peduli, lebih adil, dan lebih bermanfaat setelah pulang.
“Pak Haji dan bu Hajjah” sejatinya adalah gelar tanggung jawab, bukan gelar sosial. Ia menuntut pemiliknya untuk menjadi teladan. Bukan hanya dalam berbusana, tapi dalam bersikap.
Bukan cuma dalam cara berjalan ke masjid, tapi dalam cara memperlakukan tetangga, menyantuni fakir miskin, dan menjaga amanah.