Kamis, 28 Mei 2026

Opini

Save Raja Ampat: Ekonomi, Tambang dan Ekologi

Dalam konteks ini, agama-agama di dunia sebenarnya telah memberikan panduan moral yang cukup kuat tentang pentingnya menjaga alam.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Save Raja Ampat: Ekonomi, Tambang dan Ekologi
Muhammad Aras Prabowo
INTELEKTRUAL MUDA NU - Intelektual muda NU Muhammad Aras Prabowo menilai kebijakan terbaru Bulog wajib membeli Gabah Kering Panen (GKP) petani dengan harga Rp6.500 per kilogram tanpa syarat kualitas adalah langkap positif. Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani 

Jika ditelaah lebih jauh, semua agama di dunia memiliki titik temu yang sama: menjaga lingkungan adalah kewajiban moral. Tidak ada satu agama pun yang membenarkan eksploitasi alam secara destruktif atas nama keuntungan ekonomi. Di sinilah peran spiritualitas kolektif dapat menjadi kekuatan pendorong untuk menata ulang arah industri energi yang lebih berkeadilan.

Demikian pula, berbagai budaya dunia, dari Asia hingga Afrika, memiliki pandangan kosmologis yang menyatukan manusia dan alam sebagai satu kesatuan. Mereka menolak dikotomi antara ekonomi dan ekologi, dan justru mendorong model pembangunan yang kontekstual, berakar pada nilai-nilai lokal, dan menghormati kehidupan.

Saat ini, tantangan terbesar bukan hanya membangun industri energi yang efisien, tetapi juga memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak menjadi alasan untuk menghancurkan bumi. Tata kelola sumber daya harus diletakkan dalam kerangka spiritualitas, moralitas, dan kearifan budaya, agar tercipta harmoni antara ekonomi dan ekologi—sebuah keseimbangan yang menjadi fondasi peradaban masa depan.

Dalam konteks Indonesia, realitas paling memilukan adalah aktivitas tambang nikel oleh di Raja Ampat yang telah mencemari lingkungan secara nyata. Wilayah yang selama ini dikenal sebagai surga biodiversitas laut dunia kini mulai mengalami kerusakan ekologis serius akibat limbah tambang yang mencemari laut dan hutan sekitarnya. Lumpur dan sedimen dari proses pertambangan telah mencemari perairan yang menjadi tempat hidup spesies laut langka, sekaligus sumber penghidupan nelayan lokal. Ini bukan lagi potensi konflik, tetapi kenyataan kehancuran ekologis yang sedang berlangsung di depan mata kita.

Apa yang terjadi di Raja Ampat adalah contoh tragis ketika kepentingan ekonomi jangka pendek menyingkirkan prinsip kehati-hatian ekologis dan nilai-nilai spiritual. Wilayah yang secara spiritual dan budaya dianggap suci oleh masyarakat adat Papua, kini dirusak atas nama investasi dan hilirisasi. Dalam pandangan agama dan budaya manapun, tindakan seperti ini adalah bentuk pelanggaran terhadap amanah ilahi dan tatanan kosmik. Raja Ampat seharusnya menjadi zona sakral ekologis yang dilindungi, bukan dieksploitasi. Jika negara tetap membiarkan kehancuran ini, maka Indonesia bukan sedang membangun masa depan, melainkan sedang menggali kubur ekologisnya sendiri.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved