Rabu, 27 Mei 2026

Opini

Pancasila Antara Idealitas dan Realitas

Teringat diakhir tahun 2018 lalu, penulis mengikuti suatu kegiatan Nasional di Makassar yaitu pelatihan juru bicara Pancasila.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Pancasila Antara Idealitas dan Realitas
Facebook Ilham Sopu
Ilham Sopu 

Bahkan sila pertama dari Pancasila yang merupakan pengganti dari tujuh kata yang dihilangkanlebih islami dari sebelumnya, disamping bermakna tauhid dalam konsep ajaran Islam juga bisa diterima oleh agama-agama lain.

Dan sila pertama dari Pancasila itu adalah menjiwai sila-sila yang lain. Itulah adalah sila yang paling pokok, makanya dalam batang tubuh UUD 1945 pasal 29 dikatakan bahwa negara berdasarkan kepadaketuhanan yang maha esa. Dan Pancasila ini adalah "kalimatun Sawa" titik temu dari berbagai agama yang ada di Indonesia.

Dalam perjalanan sejarahnya, baik di masa orde lama, maupun orde baru, Pancasila mengalami banyaktantangan dan rongrongan, dimasa orde lama eksistensi Pancasila diperhadapkan dengan Ideologi komunis, tentu saja Ideologi sangat bertentangan dengan ideologi Pancasila

Begitupun dizaman orde baru, Pancasila lebih banyak digaungkan oleh para elit bangsa dalam bentuk verbalistik. Pancasila dalam
bahasa Bung Hatta ibarat gincu, ada atau nampak tapi tidak terasakan, bukan seperti garam tidak nampak tapi terasa.

Pasca orde lama dan orde baru Pancasila tidak sepi dari perbincangan, bahkan ada dari kalangan politisimuslim, yang mengangkat atau menghidupkan kembali piagam Jakarta, ini adalah suatu kemunduran dalam memahami visi kebangsaan dan kenegaraan. Ini karena kebebasan dalam mengemukakan
pendapat di zaman reformasi lebih terbuka.

Para politisi yang masih memperdebatkan Pancasila adalah politisi yang tuna visi kebangsaan. Mereka tidak memahami bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang pluralis,bangsa yang majemuk.

Pemahaman mereka terhadap Islam dan Pancasila adalah sangat parsial. Pemahaman yang tidak menyeluruh terhadap konsep Pancasila yang telah dirumuskan founding fathers.

Memang salah yang menjadi penyebab menurunnya dukungan terhadap Pancasila dari survei di atas,dipasca orde baru yaitu di orde reformasi, adalah berkembangnya ideologi atau faham lain di luar Pancasila. 

Beragam warna dan spektrum politik yang datang sebagai alternatif, dari yang kiri hingga kanan. Bagi warga yang menginginkan keadilan sosial, paham alternatif yang populis akan sangat
membujuk.

Ini juga tidak tidak terlepas dari pemimpin atau elit bangsa yang hidup glamour, hidup dalam kemewahan dan dalam pembagian kue pembangunan itu tidak punya nilai keadilan antara satu wilayahdengan wilayah yang lain. 

Salah tokoh bangsa yang sangat sering mengkritisi para pemimpin bangsa adalah almarhum Prof Syafi Marif, bahkan pernah melontarkan suatu ungkapan bahwa salah satu sila dalam Pancasila yang masih yatim adalah sila kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, inilah sila yang kurang mendapat perhatian dalan perspektif pembangunan.

Itulah pokok-pokok pikiran dalam memperingati hari lahir Pancasila 1 Juni 2022. Mudah mudahan kedepan kita bukan hanya hanya pintar dalam mengucapkan Pancasila tetapi lebih dari itu kita realisasikan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved