Opini
Setelah UTBK, Lalu Bagaimana?
Revolusi mental sebagai cita-cita belum juga terwujud, sementara penyimpangan masih terjadi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Mukhlis-Mustofa-Dosen-PGSD-FKIP-Universitas-Slamet-Riyadi-Surakartat.jpg)
Penulis: Mukhlis Mustofa, S.Pd.,M.Pd.
(Dosen PGSD FKIP Universitas Slamet Riyadi Surakarta)
TRIBUN-SULBAR.COM – Pasca pengumuman kelulusan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) untuk jenjang SMA/SMK pada 28 Mei 2025, muncul beragam tanggapan dari masyarakat. Kelulusan maupun kegagalan dalam UTBK merupakan keniscayaan dalam setiap seleksi pendidikan, namun respons pasca-seleksi ini patut menjadi perhatian bersama.
Euforia kelulusan maupun luapan kekecewaan akibat kegagalan menyisakan berbagai implikasi sosial yang berpotensi mengganggu kepentingan publik. Perayaan kelulusan siswa pun kerap ditanggapi dengan beragam sikap. Menghadapi semangat muda para siswa, berbagai pilihan mulai diambil. Ada yang memilih menunggu seleksi tahun depan, memilih perguruan tinggi lain, atau bahkan banting setir menjalani aktivitas lain. Ini merupakan realitas yang tak terelakkan.
Menarik untuk mencermati hasil seleksi ini sebagai arus utama (mainstream) baru dalam perayaan pendidikan. Di balik euforia kelulusan, muncul harapan klasik namun tetap relevan: bagaimana menyikapi kompetensi lulusan SMA/SMK dalam meraih masa depannya. Persepsi ini penting mengingat masa SMA merupakan fase pencarian jati diri generasi muda yang penuh gejolak, dengan dampak luas terhadap semua pihak yang terlibat.
Masa SMA sejatinya adalah masa penyiapan cerdas generasi muda untuk meraih kesuksesan di masa depan. Namun, masa ini juga dipersepsikan sebagai fase penuh kegalauan luar biasa. Kecenderungan mengikuti arus pesohor atau teman sebaya menjadikan masa ini penuh warna. Menghadapi fenomena generasi yang galau, penyikapan bijak perlu dikedepankan.
Pada medio 2 April 2016, tulisan Ary Yulistiana tentang revolusi mental Ujian Nasional (UN) memunculkan harapan untuk menjawab tantangan generasi ini. Gaung revolusi mental dalam tulisan tersebut lebih menekankan aspek struktural ketimbang inovasi dalam pola evaluasi. Nyatanya, UN di jenjang SMA/SMK justru memperlihatkan kegamangan terhadap hakikat pendidikan dalam konteks kekinian. Revolusi mental sebagai cita-cita belum juga terwujud, sementara penyimpangan masih terjadi.
Lalu, bagaimana sebaiknya memaknai hasil kelulusan SMA/SMK 2025, khususnya hasil UTBK tahun ini? Ini menjadi fenomena yang menarik. Akankah hal ini menjadi cerita lama yang terus berulang, atau menjadi gerakan edukasi yang substansial? Euforia pasca-UN hingga UTBK tidak serta-merta mencerminkan perubahan perilaku peserta, sehingga kompetensi lulusan pun terkesan hanya sekadar menggugurkan kewajiban pendidikan.
Keberlanjutan Pendidikan
Penyikapan terhadap kompetensi lulusan SMA saat ini perlu perhatian serius, mengingat kesadaran untuk menanganinya secara sungguh-sungguh masih minim. Pilihan lulusan SMA kerap tidak dipandang sebagai langkah strategis, melainkan sekadar rutinitas. Pilihan untuk melanjutkan pendidikan atau langsung bekerja seringkali tidak berlandaskan visi besar atau cita-cita luhur.
Rutinitas ini sangat berbahaya jika dibiarkan karena dapat menumbuhkan sikap pragmatis dan mengubur idealisme. Perguruan tinggi, sebagai salah satu jenjang lanjutan, menimbulkan konsekuensi tersendiri. Pilihan melanjutkan ke perguruan tinggi tidak cukup hanya berdasarkan keinginan hati, melainkan harus disertai pemahaman tentang tanggung jawab dan tantangan yang akan dihadapi.
Sayangnya, kampanye perguruan tinggi lebih banyak menonjolkan keberhasilan lulusan, dan tidak cukup menyoroti bagaimana proses pendidikan itu berlangsung. Pendidikan di perguruan tinggi lebih menekankan pendekatan andragogi (pendidikan orang dewasa) dibandingkan pedagogi (pendidikan anak), yang menuntut perbedaan kesiapan dari peserta didik. Kurangnya pemahaman terhadap prinsip andragogi seringkali menjadi penyebab kegagalan mahasiswa di kemudian hari.
Pemilihan jurusan di perguruan tinggi saat ini kerap hanya mengikuti tren atau ikut-ikutan teman. Kuatnya pengaruh relasi sosial antar siswa menyebabkan pola pikir ini mengemuka. Pragmatisme ini turut dipengaruhi oleh mekanisme pasar pendidikan, sehingga tak jarang pembukaan program studi (prodi) dilakukan secara sporadis tanpa analisis kebutuhan keilmuan yang memadai.
Ketidakseimbangan antara prodi 'gemuk' dan 'kurus' pun menjadi isu tersendiri, yang memarginalkan perkembangan keilmuan. Kesiapan menjadi mahasiswa seharusnya tidak hanya diartikan sebagai berganti seragam menjadi pakaian bebas, melainkan juga kesiapan mengubah pola pikir dalam pembelajaran. Kemandirian dalam belajar adalah konsekuensi yang sering tidak dipahami sejak awal, dan hal ini bisa memicu tingkat stres yang tinggi.
Perbedaan perlakuan antara SMA dan perguruan tinggi membuat sebagian mahasiswa memutuskan berhenti di tengah jalan. Konsekuensi penyelesaian studi dengan penyusunan tugas akhir pun sering menjadi hambatan. Dalam beberapa diskusi dengan mahasiswa, penulis menekankan bahwa ujian skripsi bukan hanya soal sidangnya, melainkan bagaimana proses pembuatannya. Gagalnya mahasiswa menyelesaikan tugas akhir seringkali disebabkan kurangnya kemampuan menjalin komunikasi efektif dengan pembimbing.
Sayangnya, hal-hal seperti ini jarang ditekankan kepada calon mahasiswa. Alih-alih memberikan pembekalan akademik, kegiatan penyambutan mahasiswa baru justru masih dipenuhi nuansa perploncoan. Padahal, transisi dari siswa ke mahasiswa itu sendiri sudah cukup menantang.
| Keberpihakan terhadap Ekologi Perspektif Sustainable Ethics dan Ekoteologi Kontekstual di Mamasa |
|
|---|
| Manipulasi Narasi Digital & Profesionalisme Penegakan Hukum: Melawan Arus Trial by Social Media |
|
|---|
| Momentum Pertumbuhan dan Tantangan Kualitas Belanja |
|
|---|
| Ancaman Narkoba di Ujung Jari |
|
|---|
| Rupiah di Titik Kritis Suatu Ujian Ketahanan Bagi Ekonomi di Daerah |
|
|---|