Operasi Pekat 2025
PSK dan Pasangan Bukan Suami Istri Terjaring Operasi Pekat di Wonomulyo Polman
Operasi itu dilakukan dalam rangka menindaklanjuti laporan warga yang resah atas bermunculannya tempat transaksi seksual di daerah ini.
Penulis: Fahrun Ramli | Editor: Nurhadi Hasbi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Petugas-saat-menjaring-PSK-dan-dua-pasangan-kekasih-dalam-operasi-pekat-di-Kecamatan-Wonomulyo.jpg)
TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN – Sejumlah Pekerja Seks Komersial (PSK) dan dua pasangan kekasih terjaring operasi pekat di Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar), pada Minggu (18/5/2025) tadi malam.
Operasi itu dilakukan dalam rangka menindaklanjuti laporan warga yang resah atas bermunculannya tempat transaksi seksual di daerah ini.
Menyasar sejumlah kamar indekos, penginapan, dan hotel, operasi berlangsung di wilayah Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Wonomulyo.
Baca juga: Polres Pasangkayu Rilis Operasi Pekat Marano 2025, Ungkap 15 Kasus, 13 Tersangka Ada Perempuan
Operasi melibatkan petugas dari TNI-Polri dan pihak Kelurahan Sidodadi untuk dilakukan pembinaan.
Petugas mengawali operasi di kawasan prostitusi “gubuk derita” yang berada dekat dari Terminal Wonomulyo.
Sejumlah lelaki hidung belang yang sempat berkunjung langsung kabur saat menyadari kedatangan petugas.
Demikian pula dengan sejumlah PSK yang berupaya melarikan diri, hingga beberapa di antaranya sempat tarik-menarik dengan petugas.
“Berdasarkan laporan dari masyarakat bahwa di wilayah Kelurahan Sidodadi ini, tempat kos-kosan, penginapan, hotel itu dijadikan tempat terjadinya transaksi seks,” kata Lurah Sidodadi, Abdul Aziz Bande, kepada wartawan, Senin (19/5/2025).
Disebutkan, operasi berlanjut dengan menyasar sejumlah kamar indekos, penginapan, dan hotel.
Petugas berhasil mendapati dua pasangan muda-mudi yang bukan suami istri sedang berduaan di dalam kamar.
Salah satu pasangan sempat berdalih sebagai suami istri, namun akhirnya mengakui perbuatannya.
Sementara pasangan lainnya sempat merengek dan menangis karena ketakutan setelah terjaring operasi.
“Tadi itu kami menemukan di penginapan dan hotel, mereka menginap bukan suami istri. Kami tadi menyuruh mereka kembali untuk jangan bermalam, karena ini secara etika agama itu sangat dilarang,” lanjut Aziz.
Menurut Aziz, pasangan yang terjaring operasi terlebih dahulu diberi pembinaan sebelum dipulangkan.
Mereka diharapkan tidak lagi mengulangi perbuatannya dan tidak kembali ke ‘gubuk derita’.