Selasa, 21 April 2026

Inflasi Sulbar

Inflasi Sulbar Tembus 4 Besar Nasional, BPS Sebut Pasar Murah Bukan Solusi

Inflasi tahunan (year on year/y-o-y) Sulbar pada April 2025 mencapai 3,36 persen menempatkan Sulbar sebagai provinsi dengan inflasi tertinggi keempat

Tayang:
Editor: Ilham Mulyawan
zoom-inlihat foto Inflasi Sulbar Tembus 4 Besar Nasional, BPS Sebut Pasar Murah Bukan Solusi
Suandi/Tribun-Sulbar.com
Inflasi - Plt Kepala BPS Sulbar, M La'bi, saat ditemui di Kantor BPS Sulbar, Jl Martadinata, Keluruhan Simboro, Kabupaten Mamuju, Jumat (2/5/2025). BPS memberikan peringatan serius kepada Pemerintah Provinsi terkait lonjakan inflasi yang cukup mengkhawatirkan. Data BPS mencatat, inflasi tahunan (year on year/y-o-y) Sulbar pada April 2025 mencapai 3,36 persen. Angka ini menempatkan Sulbar sebagai provinsi dengan inflasi tertinggi keempat secara nasional. 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU – Provinsi Sulawesi Barat punya catatan sebagai daerah inflasi tertinggi keempat secara nasional.

"Secara bulanan (month to month), inflasi kita cukup bagus yakni 1,51 persen. Tapi secara tahunan kita harus waspada karena mencapai 3,36 persen, tertinggi keempat di Indonesia," kata Kepala BPS Sulbar, M La'bi saat ditemui di Kantor BPS Sulbar, Jl Martadinata, Mamuju, Jumat (2/5/2025).

Sehingga BPS Sulbar memberi peringatan serius kepada Pemerintah Provinsi terkait lonjakan inflasi yang cukup mengkhawatirkan.

Inflasi tahunan (year on year/y-o-y) Sulbar pada April 2025 mencapai 3,36 persen. 

Baca juga: Penerbangan Batik Air Makassar - Mamuju Dibatalkan, Penumpang Kecewa Tak Diberitahu Sebelumnya

Baca juga: Selain Fasilitas Sekolah, Demo Organisasi Titik Merah Mamuju Tengah Juga Tuntut Ini di Hardiknas

Angka ini menempatkan Sulbar sebagai provinsi dengan inflasi tertinggi keempat secara nasional.

Inflasi y-o-y ini didorong oleh kenaikan harga di sejumlah kelompok pengeluaran, khususnya kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatat inflasi sebesar 7,55 persen. 

Kenaikan juga terjadi di kelompok pendidikan (2,94 persen), perawatan pribadi (3,20 persen), dan perumahan, air, listrik, serta bahan bakar rumah tangga (1,35 persen).

Komoditas yang paling berkontribusi terhadap inflasi antara lain ikan layang, ikan cakalang, emas perhiasan, tomat, bawang merah, cabai, dan minyak kelapa. 

Sementara beberapa komoditas seperti pisang, angkutan udara, ayam hidup, dan telur ayam ras memberikan sumbangan terhadap deflasi.

M La'bi juga menambahkan, operasi pasar murah yang selama ini dijalankan sebenarnya kurang efektif dalam menekan inflasi secara berkelanjutan.

Dia mengibaratkan operasi pasar seprti obat generik seperti Paracetamol. Sakitnya hilang sebentar tapi dua jam kemudian kambuh lagi.

"Penanganan inflasi sebaiknya difokuskan pada pengaturan distribusi, pasokan, dan ketersediaan bahan pokok. 

"Rekomendasi kami terkait inflasi yaitu mungkin tidak terlalu bermanfaat melakukan operasi pasar. Bahkan operasi pasar itu seperti obat generik, ya kaya Paracetamol, ya habis minum satu dua jam kembali lagi sakitnya," ia menambahkan.

Ia bahkan mengusulkan pendekatan jangka panjang seperti membuka lahan seperti bawang agar tak hanya mencukupi konsumsi lokal, tapi juga membuka peluang ekspor. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved