Jumat, 22 Mei 2026

Literasi Ulama

Agama Sempurna, Nikmat Cukup

Menarik sekali untuk dikaji ayat ini yang merupakan Wahyu terakhir yang turun kepada Nabi, dan pada saat itu umat Islam merayakan Iduladha.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Agama Sempurna, Nikmat Cukup
Facebook Ilham Sopu
Ilham Sopu, cendikiawan Muslim dari Kabupaten Polman, Sulawesi Barat (Sulbar) sehari-hari mengajar di pesantren. 

Betapa banyaknya nikmat Tuhan yang diperuntukan untuk manusia baik nikmat yang ada dalam dirinya maupun nikmat yang ada diluar dirinya.

Itulah yang diungkapkan oleh Al-Qur'an bahwa agama telah sempurna dan nikmat sudah cukup, Tuhan menurunkan atau memfasilitasi manusia dengan agama, seluruh ajaran-ajaran agama yang yang diturunkan oleh Tuhan baik itu shalat, haji, zakat, puasa, maupun ajaran-ajaran lainnya itu sudah lengkap, Nabi tidak akan meninggalkan dunia ini begitu saja, tugas Nabi sudah selesai, Nabi berjuang selama kurang lebih 23 tahun untuk menyampaikan risalah dari Tuhan berupa agama, Nabi menyelesaikan tugasnya secara sempurna.

Kesempurnaan agama lewat ajaran-ajaran yang terkandung didalamnya adalah yang sempurna, begitupun juga dengan nikmat Tuhan, juga hal yang sempurna.

Namun ada terkait dengan kedua kata tersebut, sekalipun terjemahan dalam bahasa Indonesia itu sangat mirip. Sebagaimana pandangan Prof Quraish diatas tentang kata nikmat yang menggunakan kata "atmamtu", yang diartikan menghimpun banyak hal yang belum sempurna sehingga menjadi sempurna, nikmat Tuhan itu banyak, manusia menikmati nikmat-nikmat Tuhan, seluruh manusia menikmati nikmat Tuhan tanpa kecuali. 

Namun manusia belumlah sempurna menikmati nikmat Tuhan itu kalaulah belum melibatkan pemilik nikmat dalam kehidupan kesehariannya, atau sepanjang manusia belum bersyukur tentang keberadaan nikmat-nikmat tersebut, manusia belum menikmati secara sempurna fasilitas Tuhan yang diturunkan kepadanya.

Makanya dalam Al-Qur'an dikatakan, jika kamu bersyukur, Aku akan tambah nikmat-Ku. Kesyukuran adalah bentuk pelibatan Tuhan dalam menikmati nikmat-nikmat Tuhan, dan Tuhan akan membalas dengan berbagai kenikmatan lainnya bagi manusia yang rajin bersyukur, hakekat syukur sebenarnya bukanlah nikmatnya tersebut tetapi pemilik nikmatlah yang harus tetap kita ingat kepada-Nya. 

Ada yang menarik dalam logika Alquran tentang kesyukuran atas nikmat Tuhan, dalam logika Al Qur'an dikatakan bahwa jika kamu bersyukur Aku akan tambah nikmat-Ku, tetapi kalau kamu kufur siksaku amat pedih.

Kalau logika manusia yang kita pakai seharusnya teksnya akan berbunyi, jika engkau bersyukur nikmat-Ku akan Kutambah, tetapi kalau kufur nikmat-Ku akan Aku kurangi, tapi Tuhan itu Maha penyayang, nikmat Tuhan akan tetap tercurah kepada manusia sekalipun manusia itu kufur kepada-Nya.(*)

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved