Rabu, 20 Mei 2026

Harga Pupuk

Petani Pasangkayu Ngeluh Harga Pupuk Terus Naik dan Makin Mahal

Kenaikan harga pupuk sejak tiga tahun belakangan, yaitu mencapai Rp 200 ribu hingga Rp400 per 50 kilogram.

Tayang:
Penulis: Taufan | Editor: Munawwarah Ahmad
zoom-inlihat foto Petani Pasangkayu Ngeluh Harga Pupuk Terus Naik dan Makin Mahal
Tribun Sulbar / Taufan
Jagung milik Faisal saat dikeringkan di pinggir jalan poros Dusun Berkah, Desa Karya Bersama, Kecamatan Pasangkayu, Senin (4/11/2024) 

TRIBUN-SULBAR.COM, PASANGKAYU - Sejumlah petani di Kabupaten Pasangkayu, keluhkan harga pupuk subsidi dan nonsubsidi yang melonjak drastis saat ini, Senin (4/11/2024).

Kenaikan harga pupuk sejak tiga tahun belakangan, yaitu mencapai Rp 200 ribu hingga Rp400 per 50 kilogram.

"Untuk jenis Urea subsidi sendiri Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu per 50 kilo gram," terang Faisal salah satu petani jagung di Dusun Berkah, Desa Karya Bersama, Kecamatan Pasangkayu.

Baca juga: Pemuda Terekam CCTV Kendarai Motor Curian di Polman, Ini Ciri-cirinya dan Sedang Diburu Polisi

Baca juga: Tanah di Saloadak Mamuju Tengah Likuifaksi Bukan karena Gempa Tapi Disebabkan Tekanan Excavator

Sedangkan jenis Urea non subsidi saat ini mencapai Rp 370 ribu per 50 kilogram.

Selain itu, jenis pupuk KCL juga mengalami kenaikan drastis yaitu tembus hingga Rp 400 ribu per 50 kilogram.

Faisal mengatakan meski pupuk tidak langka, namun harganya yang terbilang mahal itu cukup menyusahkan para petani.

"Apalagi petani jagung seperti kami," ujarnya.

Faisal menjelaskan, ia biasa menghabiskan lima karung pupuk jenis Urea, dengan total harga Rp 1 juta.

"Itu belum termasuk racun, sewa pekerja, dan sewa yang lain," tambahannya.

Sedangkan harga jagung saat ini hanya di sekitaran Rp 4 ribu perkilonya.

Hal itu tentunya tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkan oleh petani.

Faisal menjelaskan, adapun jatah pupuk subsidi dari pemerintah hanya diberikan kepada kelompok petani, dengan harga Rp 130 ribu per 50 kilogram.

Sedangkan syarat untuk masuk ke kelompok petani menurutnya harus memiliki kebun coklat.

"Kami yang tidak bisa masuk kelompok petani karena tidak memiliki kebun coklat, harus membeli pupuk dengan harga tinggi," ujarnya.

Ia menjelaskan, petani yang tidak masuk dalam kelompok tani, terpaksa membeli pupuk dari kelompok tani yang dibandrol dengan harga Rp 200 ribu per 50 kilogram.

"Kalau begini terus harga pupuk, bisa-bisa banyak petani yang tidak mau lagi tanam jagung, karena tidak sesuai harga pupuk dengan harga jagung," terang Faisal.

Ia berharap, agar harga pupuk bisa turun kembali ke harga normal, seperti tahun-tahun sebelumnya, yaitu Rp 130 ribu perkilo.(*)

Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved