Selasa, 28 April 2026

Opini

Diabetes Pada Anak Meningkat, Generasi Terancam, Apa Solusinya?

Berdasarkan data IDAI, Di Indonesia sebanyak 1.645 anak mengidap DM tipe I , meningkat 70 kali lipat sejak tahun 2010 hingga 2023.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Diabetes Pada Anak Meningkat, Generasi Terancam, Apa Solusinya?
dok pribadi
Penulis Opini Marwana 

Prevalensi paling banyak pada anak perempuan dengan 59,3 persen dan laki-laki 40,7 persen (www.cnbcindonesia.com).

Di saat yang sama Ketua Umum IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menyebut, DM yang merupakan penyakit tidak menular pada anak seperti epidemi yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Piprim menjelaskan pola makan sangat berkaitan erat dengan penyakit DM pada anak.

Menurutnya, apabila sejak awal anak selalu diberi makanan tinggi karbohidrat, gula, dan minyak bisa menjadi cikal bakal diabetes, begitu juga pada saat anak diberi makanan berupa snack-snack junk food bisa membuat gula darah anak cepat naik kemudian turun drastis.

Piprim pun menyarankan untuk mencegah terjadinya DM pada anak sebaiknya anak mengutamakan mengonsumsi makanan sehat berupa protein hewani dan sayur-sayuran hijau karena kenyangnya bisa lama sehingga tidak akan kalap makan snack-snack (www.liputan6.com).

Peningkatan jumlah penderita DM pada anak hingga 70 kali lipat disinyalir efek dari pola gaya hidup yang tidak terkendali seperti konsumsi makanan yang tidak sehat, ini menunjukkan negara belum mewujudkan keamanan pangan bagi rakyatnya, hal ini terjadi karena tingginya kemiskinan sehingga memicu kesalahan pola makan karena masyarakat tidak dapat mengakses makanan yang sehat dan bergizi ditambah masyarakat tidak memahami makanan halal dan thayyib serta pola makan yang benar yang dituntun syariat.

Kondisi kemiskinan juga membuat para pedagang makanan menggunakan bahan yang murah meski berbahaya.

Industri makanan dan minuman abai terhadap syarat kesehatan demi mendapatkan keuntungan besar sebab sistem yang berjalan berorientasi pada keuntungan sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya tanpa pertimbangan halal haram.

Padahal dalam Islam, pangan adalah salah satu kebutuhan dasar yang wajib dipenuhi negara dan negara akan melakukan berbagai upaya untuk merealisasikannya.

Negara akan memberikan jaminan perlindungan atas terpenuhinya kebutuhan makanan yang halal dan thayyib bagi rakyatnya.

Islam mengatur pola hidup dengan menyeluruh termasuk soal makanan agar terbentuk ketepatan konsumsi karena Islam menentukan makanan yang dikonsumsi harus halal dan thayyib.

Inilah konsep yang harus diterapkan dalam diri kaum muslim, namun dalam menerapkan tidak hanya dikembalikan pada masyarakat tapi juga negara berkewajiban atas terpenuhinya kebutuhan makanan halal dan thayyib.

Dalam upaya menghindarkan masyarakat dari penyakit akibat pola makan yang salah, negara akan memastikan individu rakyat bisa memenuhi kebutuhan pangan dengan makanan halal dan bergizi dengan jalan negara akan membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya melalui penerapan sistem ekonomi islam sehingga masyarakat khususnya laki-laki mudah memperoleh pekerjaan yang layak dengan gaji yang mencukupi dalam pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan.

Negara juga menerapkan sistem pendidikan gratis, berkualitas dan bisa diakses sehingga memudahkan masyarakat memahami pola makan yang sesuai syariat, negara juga akan membuat aturan perindustrian makanan dan minuman untuk menggunakan bahan baku yang halal dan thayyib dan yang melanggar akan diberikan sanksi ta’zir sebagaimana yang disyariatkan dalam Islam.

Negara melalui departemen kemaslahatan umum dan Qadhi Hisbah melakukan pengontrolan terhadap industri makanan dan minuman serta produk yang ada di pasar sehingga nyatalah jaminan terpenuhinya pangan yang halal dan thayyib yang jauh dari bahaya penyakit bagi masyarakat akan terwujud dalam aturan syariat.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved