Opini
Santri dan Transformasi Digital
Lembaga pendidikan berbasis keagamaan pada tingkat dasar keberadaannya kian mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia. Tak hanya Pondok Pesantren.
Oleh : Shalahuddin, S.Sos., MM
(Relawan TIK/Alumni Pondok Pesantren DDI Baruga)
TRIBUN-SULBAR.COM, - Lembaga pendidikan berbasis keagamaan pada tingkat dasar keberadaannya kian mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia. Tak hanya Pondok Pesantren, termasuk lembaga pendidikan modern yang turut mengadopsi pola asuh yang diterapkan pondok pesantren selama ini juga memiliki ruang yang sama di benak masyarakat. Sebab kehadirannya dianggap mampu menjawab kekhawatiran para orang tua siswa terhadap tantangan sosial yang bakal terjadi dimasa depan.
Lembaga ini dianggap mampu membentuk karakter dan fokus pada agenda tafaqquh fi-din yang secara otomatis akan membantu sistem navigasi spiritualitas keluarga. Tentu paradigma ini tak salah.
Hal tersebut sangat wajar. Sebab memberi gambaran jawaban dan bentukan masa depan anggota keluarga yang akan membaik. Minimal tugas orang tua berkurang dalam menata karakter anak yang mengenyam pendidikan di pondok pesantren.
Namun tak sedikit yang berpandangan pesimis terhadap anak-anak yang dititipkan pada lembaga pendidikan seperti pondok pesantren. Gagap teknologi (gaptek) dan kurang update (kudet) ketika mereka telah lulus mengintai mereka menjadi salah satu alasan.
Pandangan ini tentu juga tak sepenuhnya keliru. Namun penting untuk memahami dunia pondok pesantren lebih kompleks agar memahami keberadaannya tak parsial.
Secara umum, hingga kini tak sedikit yang memahami pondok pesantren tak adaptif terhadap perkembangan global. Misalnya paradigma tentang pesantren yang dianggap tak mengadopsi sistem teknologi informasi dan komunikasi masa kini. Demikian halnya dengan pakem “mengharamkan” penggunaan gadget pada lingkungan lembaga pendidikan.
Tentu kondisi ini tak sepenuhnya benar tetapi bukan berarti secara keseluruhan telah mengadopsi pola ini. Sebab masing-masing pondok pesantren memiliki desain pendidikan berbeda. Sesuai dengan tuntunan ideologis dan gerakan yang menjadi patronnya.
Jika merujuk pada kategori lembaga pendidikan sejenis pesantren, di Indonesia minimal telah dikenal tiga model. Pertama salafiyah, metode pendidikan yang merujuk pada kitab klasik atau populer disebut kitab kuning sebagai sumber pengajaran. Kedua khalafiyah, model pendidikan yang memadukan antara kajian kitab klasik dan pengetahuan umum pada jenjang madrasah. Ketiga adalah pondok pesantren modern yang dominan mendorong life skill dan pengajaran pada ilmu pengetahuan umum. Sehingga pada model ini kajian kitab klasik bukan hal dominan. Namun ketiganya mengadopsi sistem “karantina” santri selama mengikuti pendidikan.
Pada ketiga model ini perlahan kita bisa memahami meski bermerek pondok pesantren, bukan berarti metode yang diadopsi bakal seragam. Demikian halnya dalam menyikapi perkembangan teknologi informasi. Metodenya juga beragam.
Selain iklim pendidikan yang dominan terhadap kajian keislaman dengan metode bandongan, kondisi ini juga sangat dipengaruhi oleh keterbatasan sebagian pondok pesantren dalam mengakses infrastruktur penunjang teknologi informasi. Namun apakah hal ini membuat perangkat pondok pesantren atau orang tua santri khawatir jika tak adaptif terhadap perkembangan TIK?
Rupanya tak sesederhana yang diduga. Sebab mereka memiliki metode tersendiri agar tak terlewatkan dengan teknologi masa kini. Diantara metode agar tetap adaptif diantaranya yang pertama, menularkan pandangan ditengah santri bahwa teknologi hanya instrumen pendukung belajar dan kegiatan dakwah. Kedua, pondok pesantren menjadi Gate Keeper ilmu pengetahuan yang disajikan melalui perangkat TIK yang diartikulasikan kembali sehingga konteksnya tersampaikan sesuai dengan patron keilmuan yang menjadi basis di pondok pesantren. Ketiga, pada sebagian pondok pesantren, yang telah mampu mengakses dan memiliki infrastruktur TIK lebih baik, meski terhitung sudah mapan juga tetap menerapkan pembatasan-pembatasan. Misalnya dalam hal penggunaan gawai di lingkungan pesantren. Namun, mereka didorong lebih awal dengan penguatan-penguatan karakter agar keterampilan mereka dalam penggunaan perangkat TIK tetap menjaga watak kesantriannya. Sebab diyakini bahwa tantangan penggunaan paltform digital ada pada kekuatan individu dalam menjaga wataknya tetap sebagai seorang santri.
Jika merunut pada “kurikulum” program literasi digital dua tahun belakangan oleh kementerian Kominfo RI, terdapat empat pilar besar yang jadi isu sentralnya. Pertama, Cakap Bermedia Digital; Kedua, Aman Bermedia Digital; Ketiga Budaya Bermedia Digital dan Keempat Etika Bermedia Digital, maka para santri dalam mengenyam literasi digital dominan pada pilar keempat.
Bukan tanpa alasan. Sebab paradigma yang dibangun sejak awal untuk karakter seorang santri adalah tak hanya berilmu dan memiliki kepercayaan diri. Tetapi pada ruang-ruang lain juga semestinya seiring dengan kemampuan menahan dan sadar diri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Relawan-TIKAlumni-Pondok-Pesantren-DDI-Baruga-Shalahuddin.jpg)