Tenun Dodo
Mengenal Tenun Dodo Tradisional Khas Pana' Kabupaten Mamasa
Jauh sebelum Mamasa jadi kabupaten, menenun menjadi kreativitas kaum perempuan di beberapa desa.
Penulis: Semuel Mesakaraeng | Editor: Nurhadi Hasbi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Puteri-Wisata-Sulbar-2021-Finalis-asal-Mamasa-saat-memperagakan-proses-tenun-tradisional-khas-pana.jpg)
Alat tenun yang digunakan terbuat dari alat tradisional berupa talikusan, api', balida, doke-doke, balo, kumba' dan pepau.
Talikusan ditempelkan pada bagian belakang penenun.
Kegunaannya, mengikat api' atau mengapit kain tenun.
Sementara balida digunakan merapatkan benang yang disulam di dalam kain tenun.
Sedangkan doke-doke (tombak-tomabak) dan balo (bambu) digunakan memisahkan setiap sulaman benang.
Sementara pepau, digunakan sebagai wadah benang yang dipakai menyulam.
Selain beberapa alat tenun tradisional, juga dibutuhkan beberapa buah balok sebagai tempat bertumpu.
Semakin kuat penenun bertumpu maka makin tegang dan erat pula benang yang ditenun.
Pada proses tenun tradisional ini, tingkat kesulitan yang dialami setiap penenun, terdapat pada proses ma'sampang dan ma'sukki (menyulam benang dengan motif yang diingini).
Setiap kain yang ditenun membutuhkan waktu satu sampai dua minggu.
Sesuai tingkat kerumitannya, kain yang sudah jadi berupa sarung dihargai dengan harga yang tergolong fantastis.
Harganya bisa mencapai 750 ribu rupiah sesuai motif.
"Harga setiap sarung, itu dihargai sesuai motif. Makin bagus motifnya, makin tinggi pula tingkat kerumitannya," ungkap Limbong, Kamis (4/11/2021).
Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com/Semuel Mesakaraeng