Tenun Dodo
Mengenal Tenun Dodo Tradisional Khas Pana' Kabupaten Mamasa
Jauh sebelum Mamasa jadi kabupaten, menenun menjadi kreativitas kaum perempuan di beberapa desa.
Penulis: Semuel Mesakaraeng | Editor: Nurhadi Hasbi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Puteri-Wisata-Sulbar-2021-Finalis-asal-Mamasa-saat-memperagakan-proses-tenun-tradisional-khas-pana.jpg)
Umumnya di sekitar wilayah Kecamatan Mamasa, penyebutan sarung khas Mamasa disebut sambu.
Berbeda dengan Kecamatan Pana. Meski ukurannya besar, warga setempat menyebutnya dodo.
Menenun diawali proses ma'patama (menguntai benang).
Utuk benang biasa, prosesnya memakan waktu 4-5 jam.
Sementara benang woll, membutuhkan waktu 2-3 jam, tergantung keuletan penenun.
Pada proses ini, benang yang akan ditenun dirapihkan terlebih dahulu yaitu memisahkan warna benang sesuai motif yang diinginkan
Alat digunakan terbuat dari alat tradisional berupa potongan kayu yang sudah dibentuk.
Bentuknya sederhana, dua potongan kayu sepanjang kurang lebih 1,5 meter ditancap di tanah dengan arah horizontal.
Jarak kayu satu dengan kayu lainnya disesuaikan ukuran sarung yang akan ditenun.
Benang akan ditenun, diuntai memutari kedua kayu yang telah ditancapkan.
Alat ini disebut pa'sampang.
Proses ini dilakukan kurang lebih dua jam.
Setelah proses ma'sampang selesai, selanjutnya proses panatta' (memasang benang pada alat tenun).
Jika alat tenun semuanya sudah terpasang, selanjutnya proses menenun.
Pada ujung benang yang akan ditenun biasanya diikat pada dinding rumah, lalu dijepit menggunakan beberapa alat tenun.