Jumat, 8 Mei 2026

Tenun Dodo

Mengenal Tenun Dodo Tradisional Khas Pana' Kabupaten Mamasa

Jauh sebelum Mamasa jadi kabupaten, menenun menjadi kreativitas kaum perempuan di beberapa desa.

Tayang:
Penulis: Semuel Mesakaraeng | Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Mengenal Tenun Dodo Tradisional Khas Pana' Kabupaten Mamasa
Tribun-Sulbar.com/Samuel Mesakaraeng
Puteri Wisata Sulbar 2021 Finalis asal Mamasa saat memperagakan proses tenun tradisional khas pana' 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMASA - Kabupaten Mamasa, sejak lama dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kain tradisional di Sulawesi Barat.

Meski bukan satu-satunya di Indonesia, namun tenunan Mamasa memiliki ciri khas tersendiri.

Apalagi proses tenunnya masih dilakukan dengan alat tradisional.

Jauh sebelum Mamasa jadi kabupaten, menenun menjadi kreativitas kaum perempuan di beberapa desa.

Kearifan lokal itu, hingga kini masih terus digeluti.

Dahulu kala, kain khas Mamasa hanya digunakan sebagai bahan baku membuat sambu' atau dodo (sarung) dan busana adat.

Lambat laun, berbagai inovasi, pun mulai dimunculkan dengan bahan dasar kain khas Mamasa.

Seperti membuat selendang, jas, tas, rok, taplak meja dan aksesori lainnya.

Proses tenun tenun tradisional ini masih dilestarikan kaum perempuan Kecamatan Pana.

Satu diantaranya adalah Limbong, warga Desa Panura, Kecamatan Pana.

Dengan inovasi dan ide kreatif, kaum perempuan di desa itu telah banyak menciptakan tenunan khas Mamasa berupa sarung, jas, tas dan taplak meja.

Sarung tenun khas Mamasa, terdapat beberapa tingkatan sesuai kasta masyarakat.

Bagi kalangan pemangku adat, sarung yang digunakan disebut 'sambu bembe' busa (sarung berwaran putih).

Selain itu, juga ada sarung yang khusus digunakan wanita yang agak pendek dari sambu' bembe yang disebut dodo (sarung ukuran kecil).

Tetapi, kebanyakan sarung yang ditenun yaitu sarung digunakan masyarakat pada umumnya.

Umumnya di sekitar wilayah Kecamatan Mamasa, penyebutan sarung khas Mamasa disebut sambu.

Berbeda dengan Kecamatan Pana. Meski ukurannya besar, warga setempat menyebutnya dodo.

Menenun diawali proses ma'patama (menguntai benang).

Utuk benang biasa, prosesnya memakan waktu 4-5 jam.

Sementara benang woll, membutuhkan waktu 2-3 jam, tergantung keuletan penenun.

Pada proses ini, benang yang akan ditenun dirapihkan terlebih dahulu yaitu memisahkan warna benang sesuai motif yang diinginkan

Alat digunakan terbuat dari alat tradisional berupa potongan kayu yang sudah dibentuk.

Bentuknya sederhana, dua potongan kayu sepanjang kurang lebih 1,5 meter ditancap di tanah dengan arah horizontal.

Jarak kayu satu dengan kayu lainnya disesuaikan ukuran sarung yang akan ditenun.

Benang akan ditenun, diuntai memutari kedua kayu yang telah ditancapkan.

Alat ini disebut pa'sampang.

Proses ini dilakukan kurang lebih dua jam.

Setelah proses ma'sampang selesai, selanjutnya proses panatta' (memasang benang pada alat tenun).

Jika alat tenun semuanya sudah terpasang, selanjutnya proses menenun.

Pada ujung benang yang akan ditenun biasanya diikat pada dinding rumah, lalu dijepit menggunakan beberapa alat tenun.

Alat tenun yang digunakan terbuat dari alat tradisional berupa talikusan, api', balida, doke-doke, balo, kumba' dan pepau.

Talikusan ditempelkan pada bagian belakang penenun.

Kegunaannya, mengikat api' atau mengapit kain tenun.

Sementara balida digunakan merapatkan benang yang disulam di dalam kain tenun.

Sedangkan doke-doke (tombak-tomabak) dan balo (bambu) digunakan memisahkan setiap sulaman benang.

Sementara pepau, digunakan sebagai wadah benang yang dipakai menyulam.

Selain beberapa alat tenun tradisional, juga dibutuhkan beberapa buah balok sebagai tempat bertumpu.

Semakin kuat penenun bertumpu maka makin tegang dan erat pula benang yang ditenun.

Pada proses tenun tradisional ini, tingkat kesulitan yang dialami setiap penenun, terdapat pada proses ma'sampang dan ma'sukki (menyulam benang dengan motif yang diingini).

Setiap kain yang ditenun membutuhkan waktu satu sampai dua minggu.

Sesuai tingkat kerumitannya, kain yang sudah jadi berupa sarung dihargai dengan harga yang tergolong fantastis.

Harganya bisa mencapai 750 ribu rupiah sesuai motif.

"Harga setiap sarung, itu dihargai sesuai motif. Makin bagus motifnya, makin tinggi pula tingkat kerumitannya," ungkap Limbong, Kamis (4/11/2021).

Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com/Semuel Mesakaraeng

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved