Literasi
Dari Tekstual ke Kontekstual
Pemahaman terhadap perkataan Nabi di atas melahirkan dua pemikiran dalam memahami agama, yang dikenal madzhab tekstualis dan madzhab kontekstualis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Ilham-Sopu-salah-satu-cendikiawan-Muslim-asal-Kabupaten-Polman.jpg)
Oleh : Ilham Sopu
Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang natural atau alamiah. Para sahabat Nabi sering berbeda pendapat di depan Nabi. Dan Nabi tampil sebagai penengah kalau para sahabat ini saling berbeda pendapat diantara mereka. Para sahabat ketika Nabi memberikan pendapat dengan senang menerima pendapat Nabi tersebut sekalipun pendapatnya bukan yang dipilih oleh Nabi.
Pernah suatu ketika Nabi mengirim para sahabatnya ke suatu kampung, untuk memutuskan suatu perkara di sana, tapi ada pesan Nabi, jangan shalat ashar kecuali di kampung Bani quraidhah, dalam perjalanan ke kampung tersebut, rupanya waktu ashar akan berakhir sebelum sampai ke kampung tersebut.
Rupanya para sahabat terbagi dalam dua kelompok, yang pertama ada yang shalat sebelum di kampung yang ditunjuk oleh Nabi alasannya karna waktu ashar akan segera berakhir, dan sahabat yang lain tidak mau shalat ashar kecuali di kampung tersebut sekalipun waktu shalat ashar sudah habis, atau sudah masuk waktu magrib, mereka ikut kepada perkataan Nabi, jangan shalat ashar kecuali diperkampungan Bani quaraidzah.
Baca juga: Keteladanan Gus Dur: Ulama Multidimensi, dari Pesantren hingga Peradaban Dunia
Pemahaman terhadap perkataan Nabi diatas melahirkan dua pemikiran dalam memahami agama, yang dikenal madzhab tekstualis dan madzhab kontekstualis. Respon Nabi setelah para sahabat melaporkan kejadian di Bani quaraidzah, kedua hasil ijtihad tersebuti keduanya dibenarkan oleh Nabi, karena mereka betul-betul konsisten terhadap ijtihad mereka masing-masing.
Nabi sangat menghargai pendapat-pendapat para sahabatnya, sekalipun Nabi agak condong kepada para sahabat yang bercepat-cepat shalat sekalipun tidak shalat ashar di kampung Bani quaraidzah sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabi.
Madzhab-madzhab pemikiran sudah berkembang pada zaman Nabi, sekalipun belum dinamai madzhab, pemikiran-pemikiran atau pendapat-pendapat para sahabat sudah banyak yang muncul, dan pendapat tersebut direstui oleh Nabi, dan salah satu contohnya adalah perbedaan sewaktu Nabi pengutus para sahabatnya di perkampungan Bani quaraidzah tersebut, dan semakin banyak muncul pendapat-pendapat baru pasca wafatnya Nabi.
Mulai di zaman Khulafaur rasyidin, para sahabat utama tersebut sudah terbiasa dalam perbedaan pendapat, lebih-lebih pasca khulafaur rasyidin, yakni pada masa tabi'in, pasca tabiin kemudian muncullah ulama madzhab dengan para pendukungnya. Tapi mereka tetap saling menghargai diantara pendukung para ulama madzhab.
Secara umum dari berbagai madzhab yang ada tetap mengacu kepada dua aliran pemikiran besar, yakni aliran tekstual dan aliran kontekstual, walaupun di sana sini ada inovasi-inovasi yang diciptakan oleh tokoh pendiri madzhab maupun pengikut-pengikutnya, itu disebabkan karena kemajuan ilmu yang berkembang pada masanya, walaupun inovasi-inovasi tersebut tidak jauh dari kedua dari arus besar, yakni aliran pengagum tekstual dan pengagum kontekstual, ada memang yang sangat kaku dalam memaknai teks-teks keagamaan, dan ada juga terlalu liberal dalam memaknai agama.
Dalam tubuh sebuah organisasi keagamaan sering juga muncul aliran-aliran yang merujuk kepada kedua pemikiran di atas, dalam konteks keindonesiaan ada Muhammadiyah yang dikenal sebagai organisasi pembaharu dan diawal kemunculannya banyak berorientasi puritan, dan ada NU yang sangat kental nilai tradisionalnya di awal kemunculannya.
Namun di era sekarang hampir tidak bisa lagi dibedakan mana kader Muhammadiyah mana kader NU,karena titik perbedaannya semakin menipis.
Kita perhatikan saja tokoh-tokoh sentral yang ada di NU maupun Muhammadiyah, pemikiran dalam memaknai keberislaman, keberagamaan, wawasan keindonesiaan, hampir tidak ada perbedaan, baik cara berpikirnya maupun hasil atau tujuannya dari pemikirannya tersebut, itu menyangkut personalitas tokoh dari kedua lembaga tersebut, sekalipun ada tokoh-tokoh yang lain dari organisasi tersebut, tetap mempertahankan pemikiran tekstual yang agak rigid, dan ada juga yang kontekstual yang agak maju dalam memaknai teks-teks keagamaan.
Terkait dengan kedua arus pemikiran di atas, pernah juga terjadi dalam tokoh internal NU, ada suatu waktu seseorang bertanya kepada seorang tokoh NU, tentang masalah fiqh, yakni masalah qurban, qurban sapi tujuh orang ditambah anak kecil satu, Ulama tersebut menolak, ini adalah model pemikiran yang tekstualis, kemudian masalah ini ditanyakan ke tokoh NU yang lain, jawabannya adalah bisa diterima yang penting ditambah satu kambing, kambing itu tempat untuk berpijak anak itu untuk naik keatas sapi, suatu jawaban yang lucu dan menarik sekaligus sangat kontekstual.
Itu juga yang terjadi hari ini di dalam internal NU, masih ada pemikiran-pemikiran yang tekstualis, demikian juga ada pemikiran-pemikiran yang kontekstualis, sampai dalam memahami anggaran dasar dan anggaran rumah tangga juga ada perbedaan-perbedaan, ada yang memahami AD ART yang agak kaku dan ada yang fleksibel dalam memahaminya.
Jadi pemahaman keagamaan yang di wariskan oleh para sahabat Nabi, itu masih menjadi arus besar dalam pemikiran Islam hari ini, sekalipun ada kemajuan-kemajuan atau inovasi-inovasi yang muncul karena kemajuan ilmu teknologi yang begitu massif.(*)
| Antusias Siswa Lomba Menggambar Festival Literasi Sulbar 2025 Komitmen Dukung Sulbar Mandarras |
|
|---|
| Kepala Perpusnas RI Akan Buka Puncak Festival Literasi Sulbar |
|
|---|
| Lagi Stres? Baca Buku Saja, Efektif Turunkan Stres dan Bikin Tidur Nyenyak |
|
|---|
| Ujung dari Agama |
|
|---|
| Krisis Minat Baca Pelajar, Komunitas Generasi Literasi Mamuju Tengah Masuk Sekolah |
|
|---|