Pendidikan

Pendidikan, AI dan Etika

Oleh karenanya, integrasi AI harus selalu disertai audit etis, menggunakan kajian kultural dan nilai-nilai profesi sebagai filter desain. 

Editor: Nurhadi Hasbi
istimewa
Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak (Pengamat Ekonomi UNUSIA) 

Kurikulum etika harus mengajarkan analisis kasus (case study) nyata yang melibatkan AI, praktik audit algoritma, serta pendekatan interdisciplinary yang menggabungkan filsafat moral, sosiologi, dan ilmu komputer. 

Di samping itu, pembentukan kode etik yang responsif terhadap konteks lokal, sebagaimana sejumlah publikasi kami tunjukkan menjadi instrumen efektif untuk menanamkan tanggung jawab profesional yang relevan dengan komunitas lokal. 

Akhirnya, tanggung jawab kebijakan ada pada pemangku kepentingan: pemerintah, universitas, asosiasi profesi, dan industri teknologi.

Regulasi yang mendorong transparansi algoritma, mekanisme audit independen, dan pendidikan etika resmi di semua jenjang pendidikan perlu diprioritaskan. 

Tanpa itu, AI berpotensi menjadi alat memperkuat ketimpangan, menggantikan tanggung jawab moral manusia, dan mengikis nilai-nilai profesional yang selama ini dijaga oleh komunitas akademik dan praktik.

Pendidikan yang mempersiapkan generasi mendatang harus memadukan kemampuan teknis dan kedewasaan etis, barulah AI dapat menjadi mitra yang memperkaya, bukan ancaman yang merombak tatanan moral kita.(*)

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved