Pendidikan
Pendidikan, AI dan Etika
Oleh karenanya, integrasi AI harus selalu disertai audit etis, menggunakan kajian kultural dan nilai-nilai profesi sebagai filter desain.
Kurikulum etika harus mengajarkan analisis kasus (case study) nyata yang melibatkan AI, praktik audit algoritma, serta pendekatan interdisciplinary yang menggabungkan filsafat moral, sosiologi, dan ilmu komputer.
Di samping itu, pembentukan kode etik yang responsif terhadap konteks lokal, sebagaimana sejumlah publikasi kami tunjukkan menjadi instrumen efektif untuk menanamkan tanggung jawab profesional yang relevan dengan komunitas lokal.
Akhirnya, tanggung jawab kebijakan ada pada pemangku kepentingan: pemerintah, universitas, asosiasi profesi, dan industri teknologi.
Regulasi yang mendorong transparansi algoritma, mekanisme audit independen, dan pendidikan etika resmi di semua jenjang pendidikan perlu diprioritaskan.
Tanpa itu, AI berpotensi menjadi alat memperkuat ketimpangan, menggantikan tanggung jawab moral manusia, dan mengikis nilai-nilai profesional yang selama ini dijaga oleh komunitas akademik dan praktik.
Pendidikan yang mempersiapkan generasi mendatang harus memadukan kemampuan teknis dan kedewasaan etis, barulah AI dapat menjadi mitra yang memperkaya, bukan ancaman yang merombak tatanan moral kita.(*)
| Belajar Kepada Malaikat |
|
|---|
| City Branding: Majene Sebagai Kota Pendidikan Menuju Indonesia Emas 2045 |
|
|---|
| Demonstrasi Anarkis, Cederai Budaya Malaqbi Sulawesi Barat |
|
|---|
| Gubernur SDK Setujui Mutasi Kadisdik Sulbar Mithhar Thala Ali Jadi Dosen di Unsulbar Majene |
|
|---|
| Pembelajaran Berdiferensiasi: Kunci Jawaban Modul 1 Topik 2 PPG 2024 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Dr-Muhammad-Aras-Prabowo-MAk-Pengamat-Ekonomi-UNUSIA.jpg)